Para Leaders jika kita berbicara mengenai manusia, maka sebenarnya kita sedang membahas mengenai jiwa dan raga. WS Rendra berpendapat bahwa manusia adalah kesatuan roh dan badan (sukma dan raga), sehingga perbuatan yang penuh kesejatian adalah perbuatan yang mencerminkan kesatuan roh dan badan (sukma dan raga). Dengan demikian, kegiatan kepemimpinan merupakan kegiatan jasmani sekaligus rohani. Tentang Nilai kepemimpinan, Dale Carnegie dalam bukunya “The Leader in You” mengatakan bahwa sebenarnya terdapat jiwa kepemimpinan di dalam setiap diri manusia.
Pemimpin yang paham kepemimpinan pasti akan menata sistem dan nilai kerja organisasi yang selaras dengan semua rencana dan arah tujuan yang ada. Sebab, dia memahami bahwa untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan rencana, maka dia harus menyelaraskan semua misi, visi, dan nilai ke dalam sebuah tindakan yang didukung oleh sistem yang selaras dengan tujuan organisasi tersebut.
Sistem dan nilai kerja yang selaras dengan semua tujuan organisasi akan mampu menjadi kekuatan andal, yang bisa berfungsi secara efektif untuk menindaklanjuti semua mimpi organisasi menjadi realitas yang nyata. Mungkin seharusnya seorang pemimpin memperhatikan dan sekaligus melakukan evaluasi terhadap sistem dan nilai kerja yang ada sekarang, sebelum membuat rencana - rencana muluk untuk mencapai sukses bersama organisasi yang dipimpinnya. Tanpa dukungan sistem dan nilai kerja yang sesuai dengan arah organisasi, maka semua usaha dan kerja keras pemimpin bersama para staf hanya akan menghasilkan kegagalan. Leaders, Sebuah
kepemimpinan yang digerakkan tanpa sistem dan nilai kerja yang jelas adalah sebuah kepemimpinan yang tidak jujur kepada diri sendiri. Bila ini terus berlangsung dalam jangka waktu lama, maka organisasi akan bergerak dan beroperasi tanpa pola yang jelas. Semuanya akan terlihat berlebihan dan kacau balau tanpa arah dan tujuan. Semangat dan vitalitas saja belumlah cukup untuk menghasilkan sebuah kinerja maksimal, tapi untuk semua itu harus didukung dengan sistem dan nilai organisasi yang senyawa dengan misi, visi, dan nilai dari organisasi tersebut. Pemimpin yang pintar tidak mungkin mau bekerja dalam sistem dan nilai yang tidak jelas. Dan, buatnya hal terpenting adalah membuat semua orang hidup dalam sebuah ruang dan waktu kerja yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi nyata. Sebagai pemimpin tidaklah seharusnya takluk dengan ketidakberdayaan untuk bisa menata sistem dan nilai yang sesuai dengan kondisi hari ini dan hari esok. Banyak pemimpin tidak bisa buka suara, dan tidak berani bertindak untuk menata ulang sistem dan nilai yang sudah usang. Hal ini dapat berakibat, pemimpin hanya akan meneruskan gaya kepemimpinannya dalam sistem dan nilai lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan realitas kehidupan hari ini.
Dengan model kepemimpinan berbasis sistem dan nilai ini, nantinya sebuah organisasi dapat berjalan bukan berdasarkan atau tidak terletak pada komando dari orang yang duduk di puncak perusahaan. Nilai kepemimpinan, justru terletak pada sistem yang dipahami setiap orang yang berada di dalam sebuah organisasi. Teori kepemimpinan baku, yang lebih kurang merujuk pada keberadaan seorang pemimpin puncak untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu, haruslah sekarang mulai ditinggalkan. Karena bagaimanapun nilai kepemimpinan ada pada perorangan di setiap lini dimana dengan memiliki self-awareness (kesadaran diri sendiri), yang mengerti kekuatan, kelemahan,memiliki nilai-nilai, dan pandangan tersendiri. Memiliki ingenuity, yakni kemauan berinovasi dengan keyakinan dan mau menyesuaikan dengan perubahan dunia. Memiliki love (cinta), yang mendorong seseorang berinteraksi dengan pihak lain dengan tingkah laku positif yang juga bisa membuka potensi pihak lain. Serta terpenting memiliki courage (keberanian) untuk mengoptimalkan potensi diri sendiri dan potensi orang lain dengan dasar ambisi dan disertai keinginan sendiri dan bersama-sama untuk mencapai keberhasilan.
Karena itulah Leaders, sistem dan nilai kepemimpinan merupakan landasan terpenting dalam mewujudkan sebuah misi menjadi realitas yang bermanfaat buat keberhasilan organisasi. Kita sering terjebak kepada rutinitas yang dikendalikan oleh sistem dan nilai usang, dan akibatnya semua program dan rencana menjadi tidak jelas dan terkesan uji coba terus.
Sudah menjadi tugas dariseorang pemimpin untuk selalu memahami realitas dan menjawabnya dengan penyesuaian dan perbaikan terhadap sistem dan kultur yang sudah tidak selaras dengan tantangan hari ini. Tetapi semua itu memerlukan kecerdasan, keberanian, kepercayaan diri, dan niat tulus dari pemimpin. Tidak ada yang tidak mungkin kita kerjakan dengan sempurna,bila saja kita mau selalu bekerja dengan menata dan merawat sistem dan kultur kerja yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pemimpin itu adalah mata hati yang harus menggunakan semua sikap positifnya untuk menciptakan segala kebaikan buat semua orang. Dan, untuk itu pemimpin harus memiliki kecerdasan total dalam menjadikan sistem dan nilai kerja organisasi ter-efektif sebagai kaki dan tangan dalam menggerakan semua aspek kepentingan organisasi. (ndy)
![]() | Hari ini | 136 |
![]() | Minggu ini | 560 |
![]() | Bulan ini | 7837 |
![]() | Total | 702814 |