Wuuihhh…andaikata kalimat itu tidak memiliki konotasi negatif! Lha wong begitu dengar, rasanya kita sudah dihadapkan pada dagangan tubuh. Kayaknya begitulah kebanyakan orang mendapatkan kesan kalimat ini. Tetapi, sebenarnya kalimat ini memiliki kebenaran universal. Tergantung dalam situasi apa. Tergantung waktu. Jual diri itu perlu, kata sobat saya, seorang manager HRD. Ia menjelaskan, bagaimana bisa mengukur kemampuan kalau tidak bisa presentasikan dirinya sendiri dengan cara yang meyakinkan.
Ya… Lha iya tho, sekarang khan jamannya jual diri. Saya sependapat, masalahnya jual diri yang bagaimana?
Mari kita lihat contoh. Para calon bupati, walikota, gubernur, jual diri untuk memenangkan massa, supaya sebanyak mungkin orang memilih mereka. Banyak cara dilakukan untuk jual diri di bursa massa. Wahana yang digunakan adalah media massa, media tatap muka, atau memakai kedua jenis media. Kampanye diri, bukan sekadar sosialisasi visi misi, tetapi menunjukkan keunggulan komparatif diantara calon lain.
Contoh lain: para calon direktur BUMN mengemas CV-nya sebagus mungkin. Membekali dirinya dengan presentasi yang aduhai di depan TPA (Tim Penilai Akhir). Lagi? Apa yang dilakukan ketika melamar pekerjaan? Apa yang sedang terlintas dalam benak para Leader supaya mendapatkan promosi jabatan? Dunia semakin kompetitif. Orang memiliki begitu banyak pilihan. Kita tidak hanya menjual produk dan jasa, tetapi juga diri kita. Kita menjual diri mulai dari menulis resume, mendesain karir, memprospek orang lain.
Jadi, jual diri yang ini adalah untuk memenangkan persaingan. Jual diri untuk memenangkan bursa massa, jual diri untuk memimpin, untuk mendapatkan jenjang karir yang lebih tinggi, untuk mendapatkan job. Tantangan buat para Leader adalah bagaimana jual diri untuk memenangkan persaingan?
Jual diri hampir sama dengan jual barang. Sama-sama membutuhkan perencanaan. Sama-sama membutuhkan blue print yang bisa dimulai dalam bayangan para Leader, lengkap dengan tujuan dan sasaran yang perlu dicapai. Tetap membutuhkan forecasting, atau semacam bisnis plan. Bagaimana kira-kira para Leader mempunyai rencana untuk mencapainya, tidak sekadar di bayangan kepala! Mengejawantahkan impian yang masih bercokol di kepala menjadi aktivitas motorik. Tidak hanya sebuah mimpi tetapi melibatkan fisiologi untuk mencapai sasaran! Tindakan awal yang konkrit yang bisa dilakukan. Tanpa rencana, tidak akan pernah tahu bagaimana mewujudkannya. Dengan rencana bisa mengukur apakah capaian-capaian antara mengarah ke tujuan besar.
Satu hal penting untuk memenangkan persaingan memposisikan diri kita sebagai sumber bagi orang lain bila perlu bantuan. Di sinilah diperlukan positioning strategy. Bukan hanya merek saja yang perlu positioning, tetapi pribadi-pun sangat membutuhkan. Persepsi kita mengenai diri kita tidak akan sama persis dengan persepsi orang lain terhadap kita.
Kesan orang lain terhadap diri kita, menentukan sejauh mana orang lain berkontribusi dalam hidup kita. Siapa saya adalah apa kesan dibenak orang lain mengenai diri saya.
Dengan banyaknya persaingan, bursa massa memiliki banyak pilihan. Walaupun pilihan seseorang tidak secara objektif menggambarkan kualitas orang yang dipilihnya. Karena sebenarnya kualitas itu sangat relatif. Bagaimana mereka memilih diantara Leader-Leader lain yang sedang jual diri? Sementara mungkin kualitas pilihan kurang lebih sama. Ternyata ada faktor-faktor lain yang turut berperan dalam menentukan pilihan orang.
"Bagaimana mengemas diri kita, merefleksikan bagaimana kita pantas diandalkan."Ada dimensi lain yang perlu dicermati dalam hal ini, yaitu kognitif dan psikologis. Orang memilih karena akal sehatnya mencerna bahwa apa yang dipresentasikan masuk akal. Atau kebetulan orang sudah tahu bahwa pilihannya terbukti sudah berpengalaman. Ini dimensi kognitif. Dalam komunitas terbatas, mudah bagi para Leader untuk meyakinkan sekelompok kecil orang, tetapi di bursa massa? Komunitas individu-individu yang tidak saling kenal? Lantas bagaimana memenangkan massa? Artinya, diperlukan strategi yang fokus pada dimensi psikologis. Apa perlunya? Bukankah orang cenderung senang membeli dari orang lain yang sudah dikenalnya. Orang cenderung senang melakukan transaksi dengan orang lain yang memiliki kesamaan latar belakang, geografis, gaya hidup, dan perhatian yang sama pada suatu topik.
Hanya ada tiga kata penting dalam dunia jual diri kenal orang banyak! Bangun networking dengan intens. Investasi kita adalah waktu. Tidak kurang tidak lebih. Menemui sebanyak mungkin orang dengan cukup waktu sehingga orang lain bisa mengenal kita secara cukup. Barangkali, yang paling esensial untuk membangun networking adalah kepandaian bergaul atau bisa disebut kecerdasan sosial. Kemampuan berempati, menunjukkan keterlibatan dan mengaktualisasikan diri pada kepentingan orang lain. Gabungan dari kemampuan-kemampuan ini merefl eksikan karakter seseorang.Kesempatan tercipta untuk siapa saja. Hanya bagi para Leader yang mampu jual diri-lah yang dipilih. Well, intinya, jual diri itu perlu! Yang lebih perlu lagi adalah bagaimana mengemas diri kita, merefleksikan bagaimana kita pantas diandalkan. Bagaimana khalayak massa menilai penampilan saya juga akan mempengaruhi bagaimana kesuksesan saya di masa depan. Kesan pertama begitu menggoda, kata sebuah iklan parfum. Sekarang kan jamannya selera!
Dan G
![]() | Hari ini | 134 |
![]() | Minggu ini | 558 |
![]() | Bulan ini | 7835 |
![]() | Total | 702812 |