Wajah lelaki cekung, tua dan pincang itu sungguh tidak bisa lepas dari benaknya. Betapa tidak, ketika ia melemparkan uang logam sebagai jawaban atas pinta lelaki yang kelaparan itu, tiba-tiba anak-anak muda merebut uang itu. Ia sudah membayangkan betapa laparnya lelaki tua itu. Rasa perih di perut karena lapar, haus dan penyakit lelaki itu, pasti terjadi setiap hari.
Tapi derita itu masih belum seberapa. Ia melihat begitu banyak kemiskinan yang ekstrim, kebodohan yang membutakan nurani, dan masa depan yang gelap pekat. “Aku harus berbuat sesuatu, apa pun yang terjadi dan seberapa kecil peranku di sana,” ia bertekad pada dirinya.
Inilah tekad dari seorang suster, Tereza. Ia sudah yakin bahwa di daerah sangat miskinlah sesungguhnya ladang pengabdiannya. Ia butuh waktu lebih dari satu tahun untuk meyakinkan pimpinan biaranya agar ia dibolehkan keluar dari biara itu. Sejarah mencatat betapa ia mampu mengabdi dan mengangkat derajat jutaan orang miskin di India.
Ialah sesungguhnya pemimpin sejati. Ia memiliki nafsu besar untuk mengurangi kemiskinan yang ekstrim. Ia tidak punya modal apa-apa. Ia hanya bermodalkan keyakinan, dan ternyata keyakinan itu mampu memberi energi tak terbatas untuk berjuang.
Ketika Jendral Sudirman berjuang, ia sakit dan ditandu. Ia rela terus berjuang karena ia memiliki nafsu untuk mengusir penjajah. Nafsunya tadi menular kepada para pejuang lainnya. Akhirnya penjajah harus angkat kaki dari bumi Indonesia.
Para pemimpin besar adalah orang-orang yang berjuang memperjuangkan sesuatu yang besar, sesuatu yang jauh melampaui kepentingan atau agenda pribadinya. “Bagiku, hidup tidaklah seperti lilin yang menyala singkat. Bagiku, hidup bagaikan suluh penerang yang aku pegang sebentar dan aku buat ia seterang mungkin sebelum aku serahkan kepada generasi penerus,” George Bernard Shaw.
Lihat, para pemimpin tadi ingin meninggalkan jejak, ingin meninggalkan warisan. Riset membuktikan bahwa untuk menilai keberhasilan seorang pemimpin, bukanlah pada saat pemimpin itu sedang menjabat. Orang menilai sukses seorang pemimpin setelah orang itu selesai menjabat.
Para pemimpin besar menjadi sukses karena mereka memiliki agenda tunggal. Satu agenda yang jika tercapai akan membawa kesuksesan pada bidang-bidang lainnya. Jack Welch, bekas dirut General Electric, mempunyai agenda tunggal, menjadikan ratusan perusahaan GE menjadi nomor satu atau nomor dua di industrinya. Jika tidak, perusahaan akan dijual. Temanya tunggal, tidak aneh-aneh, mudah diikuti, dan meninggalkan jejak yang luar biasa.
Soeharto (terlepas dari pro kontra di seputarnya), sukses dengan agenda tunggalnya, PELITA dan swasembada pangannya. Hasilnya, tidak ada rakyat yang kelaparan atau harus makan nasi aking seperti sekarang.
Ketika pemimpin memiliki tema tunggal, ia jadikan agenda itu sebagai misinya, sebagai curahan nafsunya. Ia tidak terbelenggu pada ukuran populer seperti nilai saham yang harus naik, pengembalian investasi yang fantastis atau bahkan ingin terpilih lagi sebagai pemimpin seperti yang marak belakangan ini. Begitu ia mencurahkan semangat, nafsu dan pengabdiannya pada tema tunggal, kekuatan yang terpancar bagaikan sinar laser yang mampu menembus logam apa pun. Temanya mudah dipahami oleh pengikutnya, semangatnya menjadi begitu menular, dan bicaranya begitu menginspirasi sehingga kepemimpinannya efektif.
Bandingkan dengan pemimpin reaktif yang banyak bertebaran di sekitar kita. Mereka tidak punya agenda jelas, baru menganjurkan menanam pohon setelah terjadi tanah longsor, atau baru berkata “Kita harus jangan membuang sampah sembarangan,” ketika banjir mulai menggenang di mana- mana.
Para pemimpin sejati tadi bagaikan air. Air mengalir dari atas ke bawah, membagikan kesegaran, kesuburan, kemakmuran. Tapi air juga mampu menampung dan membawa segala sampah, kotoran, dan limbah lainnya. Kemudian kotoran tadi yang hitam, pekat, disulapnya menjadi air laut yang jernih, yang siap mencurahkan hujan yang menyegarkan. Bagi air, tema pengabdiannya hanya satu, menyegarkan, menghidupkan kembali dan setelah itu kembali kepada ibu laut sambil membawa apa pun yang diceburkan ke sana.
Pemimpin itu juga seperti air itu. Dipacunya otak, jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada sesama. Ia siap menyegarkan, menghidupkan sekaligus mampu menanggungkan keluhan, kesakitan, dan kepedihan hati pengikutnya. Ia ingin ketika kembali kepada Tuhannya, ia mewah menerima raport yang yang cemerlang dan menerimanya dengan tangan kanan. Ia menyadari bahwa betapa pun gemerlap dunia ini, tidak mampu menandingi nikmatnya di akherat. Bahkan tempat cambuk di akhirat, nyatanya lebih bagus dari pada dunia beserta mobil dan permata-permatanya.
Pemimpin sejati ini, tidak terbelenggu oleh slogan should dan shouldn’t. Seharusnya saya melakukan ini atau tidak melakukan itu. Itu semua hanyalah harapan-harapan populis yang sering melemahkan semangat. Baginya, pendapat kebanyakan orang bukanlah faktor penting. Ia menyadari bahwa pendapat orang sangatlah relatif. Ia mengabdi pada nuraninya, pada panggilan jiwanya sebagaimana Sultan Yogya yang mewajibkan dirinya mengabdi hingga mati, walau tanpa harus menjadi gubernur, walau sebagian besar rakyat Yogya menghendaki ia menjadi gubernur lagi.
Pemimpin-pemimpin seperti itulah yang sering dikatakan sebagai servant leadership oleh Greenleaf, atau Kepemimpinan tingkat lima oleh Jim Collins atau kepemimpinan transformasional sebagaimana disuarakan oleh Bass.
Ketika ia berjuang dengan ikhlas, rela hati dan kebesaran jiwa, selalu saja terjadi keajaiban. Orang-orang tiba-tiba mampu melihat prestasinya. Ia ternyata menjadi begitu menonjol di antara pemimpin biasa lainnya. Tiba-tiba ia bagaikan mercu suar yang mampu memandu orang-orang yang sedang berputus asa. Ia ternyata mampu membangkitkan harapan. Dan orang- orang tiba-tiba dengan suka rela mengikuti perintah dan harapannya. Mereka menyadari bahwa kepada pemimpin seperti itulah mereka rela mengorbankan segalanya, dan inilah sukses besar seorang pemimpin.
Tapi ia bukanlah pemimpin semu, ia tidak akan pernah mengkhianati amanat orang lain. Di dasar hatinya yang terdalam terdapat roh yang begitu rindu untuk bertemu dengan Penciptanya untuk melaporkan tugas-tugas yang sudah diembannya di dunia fana ini…
![]() | Hari ini | 119 |
![]() | Minggu ini | 543 |
![]() | Bulan ini | 7820 |
![]() | Total | 702797 |