“Saya sudah capek dengan si boss! Dia terus terusan menteror dengan tugas demi tugas! Dan itu tidak pernah selesai! Ini belum, sudah ditambah yang lain lagi. Sebenarnya apa maunya si Anu itu?” Ini adalah kalimat paling sering muncul diantara karyawan yang mengeluh soal si Bad Boss. Cukup sering terjadi adalah, karyawan lain yang kebetulan menjadi tempat curhat, menimpali dengan, semacam ini: “Iya betul. Saya juga mengalami seperti kamu. Seolah-olah tidak ada waktu sedikit santai. Kerjaan seperti neraka aja ya?” “Hehhh. Kalau saja aku bisa pindah aku sudah lakukan sejak bulan lalu. Kerja dengan boss kayak gini mah, tidak akan berkembang. Tidak ada satupun yang benar yang sudah kulakukan!”
Salah satu yang menarik dari manusia adalah, setiap negatifitas lebih mudah menyebar bagaikan virus. Karena itu, tidak salah bila virus cap-mencap pada Bad Boss amat sangat mudah menular. Bahkan sampai mengekor diluar pekerjaan. Contohnya, “Iya, aku jadi pingin tahu deh. Darimana asalnya si Boss yang keminter itu (sok pinter—red). Kukira ia pasti boss karbitan. Ia pasti model yang belum pernah punya anak buah sebelumnya.” Dan yang lainnya biasa menimpali, “Barangkali ia termasuk golongan suami-suami takut istri. Dan ia kira kita-kita nih anak buah bisa didamprat seenaknya, soalnya ia tidak berani damprat istrinya...! Hahahaha....!”
Nah, situasi ini menjadi rumit bukan? Para karyawan punya kompensasi tersendiri karena situasi ketidaknyamanan dengan pimpinan mereka yang dinilai Bad. Menjadi katarsis tersendiri. Mereka cenderung melebarkan permasalahan menjadi personal, bukan pada perilaku si Bad Boss. Situasi ini lazim. Mengingat bahwa, memang karyawan bakal tidak memiliki keberanian untuk langsung face to face berhadapan dengan si Bad Boss. Lha bagaimana mau berani, lha wong nasib pekerjaannya ada ditangan pimpinan.
Jelas bahwa pelampiasan horisontal ini tidak akan menyelesaikan masalah utama. Cara itu, misalnya dengan kasak kusuk terus menerus sesama staff, tidak akan menghentikan perilaku Bad Boss. Bahkan seandainyapun, perilaku bad itu hanya sekedar sebuah kejadian ketidakpuasan oleh salah seorang karyawan yang kebetulan sedang menghadapi pimpinan kategori perfectionist. Sebuah kejadian memang bisa saja diabaikan meskipun kemudian menjadi virus-virus laten yang terus menerus menjadi “boss watched” yang terus menerus hanya mencari-cari kejelekan pimpinan. Masih ingat, bahwa pikiran manusia terpola sejajar dengan keinginannya. Bila ia ingin mencari jeleknya, ia akan terus menerus mengamati yang jelek-jelek saja dan mengabaikan hal baik lainnya. Begitu pula sebaliknya. Hal ini bisa dipergunakan untuk mempelajari bagaimana para karyawan kemudian terus menerus mencari-cari perilaku bad pimpinannya.
Yang jelas, hampir sangat susah untuk menemukan situasi yang sempurna harmonis antara hubungan pimpinan dengan para karyawan. Akan selalu ada ketidak-harmonisan pada salah satu atau beberapa hal. Misalnya, tidak harmonis dalam salah satu penugasan, atau seluruh penugasan? Dan bisa jadi ketidak-harmonisan justru terletak pada hubungan antar pribadi. Atau kedua-duanya, baik penugasan atau pribadi.
Fenomena Bad Boss jelas mengakibatkan runtuhnya bangunan kepercayaan dalam tim kerja. Akibat yang gampang dilihat adalah menurunnya motivasi karyawan. Motivasi yang drop mengakibatkan menurunnya performa kualitas produksi atau kapasitas penjualan, dan bila itu terjadi di kelompok yang berhubungan langsung dengan pelanggan (direct contact customer) akan mengakibatkan larinya mereka ke tempat lain.
Maka, fenomena Bad Boss musti dihindari. Bagi para pimpinan mereka bisa mensiasati dengan cara perubahan perilaku. Tentu saja pertamakali perlu dilakukan identifikasi perilaku, untuk menemukan mana yang dianggap bad dan mana yang dianggap good oleh sebagian besar karyawan. Lho kok sebagian besar? Bukankah mustinya oleh semua karyawan? Tidak! Tidak perlu anggapan bad atau good oleh seluruh karyawan, cukup sebagian besar saja. Tidak ada atupun pimpinan yang bisa menyenangkan seluruh karyawan, para pimpinan bisa membuat sebagian besar karyawan bersemangat penuh motivasi bekerja atau bisa membuat sebagian besar karyawan loyo. Tentu saja persepsi karyawan adalah individual, bukan sama satu dengan yang lain seutuhnya toh?
Lantas bagaimana dengan para karyawan? Hmmm, musti disikapi dengan hati-hati. Rule yang satu ini selalu benar di banyak tempat, rule pertama: boss tidak pernah salah, rule kedua: bila boss salah lihat rule pertama. Hahaha, tampaknya situasi lebih sulit bagi yang kebetulan masih menjabat sebagai karyawan bukan? Tetapi jangan berkecil hati. Pimpinan juga manusia, ia bukan dewa yang tahu segala-galanya. Justru, semakin tinggi jabatan seorang pimpinan, ia semakin strategik, sehingga semakin rendah keterlibatannya pada masalah teknis-operasional. Artinya, keahlian teknis operasional Anda, para karyawan, bisa dibilang semakin ahli Anda!
Pemahaman ini menolong diri Anda untuk memacu keahlian teknis operasional Anda. Maka, salah satu cara menghadapi Bad Boss adalah pacu terus menerus keahlian Anda, sampai pada titik dimana si Bad Boss tidak bisa memungkiri bahwa Anda jauh lebih ahli daripada dirinya!Hanya itu saja? Saya kira tidak. Meskipun Anda menyukai pekerjaan Anda tetapi Anda tidak bisa bekerja sama dengan Boss Anda, maka situasi akan sama buruknya dengan apabila Anda tidak menguasai pekerjaan Anda. Dalam hal ini, jelas Anda dalam posisi mempersiapkan diri untuk kalah! Bukan berarti bahwa Anda harus menyukai Boss Anda seutuhnya agar bisa survive di pekerjaan Anda, tetapi Anda harus bisa memilah dan mencermati pada bagian mana dari si Boss yang Anda tidak sukai? Fokuskan pengamatan Anda pada perilakuknya! Bukan pada orangnya!
Tetapi boss tetap kasar, semena-mena, dan sama sekali tidak menghargai orang lain. OK, anggap saja penilaian Anda benar, dan penilaian Anda didukung dengan bukti-bukti atau kesaksian sebagian besar karyawan selevel Anda. Apa yang akan Anda lakukan? Jangan jawab dulu sekarang!
Lihat ini dulu, Anda barangkali menilai bahwa si boss sangat tidak menguasai teknik-teknik kepemimpinan, tidak mengerti tujuan, atau barangkali sangat manja sehingga semua hal musti dilayani. Anda kemudian menjatuhkan sanksi bahwa si boss model ini pimpinan karbitan, yang kebetulan dekat sama direktur atau pemilik perusahaan dan diangkat menjadi pimpinan Anda. Hmmm, sangat mungkin terjadi. Ini salah satu bentuk nepotisme. Tetapi tidak semua nepotisme buruk adanya. Ada beberapa kepentingan yang musti dijaga oleh siapapun daam posisi apapun. Seandainya Anda pemilik perusahaan ABCD, dan menempatkan seseorang yang Anda percayai sebagai manager di sebuah unit, apakah yang akan Anda lakukan? Memang idealnya adalah memberikan kesempatan kepada karyawan senior yang sudah lama disitu dan kemudian menempatkannya dalam posisi manager daripada merekrut orang baru. Tetapi kenyataan dilapangan, sangat sedikit hal itu terjadi. Lebih sering bahkan perusahaan melakukan cross placement! (semacam penempatan silang, misalnya dari divisi A ke divisi B). Atau bahkan membajak orang lain dari perusahaan lain untuk menempati posisi itu. Dan tiba-tiba diatas Anda sudah bertengger orang lain yang Anda nilai tidak adil karena berasal dari entah berantah.
Nah, bila situasi sudah terjadi demikian, apa yang akan Anda lakukan? Sebelum Anda mengambil sikap atas penilaian Anda, coba kita cermati berikut ini: Bisakah karyawan berharap merekalah yang melakukan interview atas calon pimpinan sebagaimana pimpinan melakukan interview pada Anda dulu ketika melamar pekerjaan? Bila ini bisa dilakukan, mungkin semua pihak bisa berharap menemukan kecocokan dan tidak pernah ada konflik boss dengan karyawan. Tetapi ini tidak pernah terjadi.
Tidak percaya karyawan, tidak menghargai karyawan, tidak mau memberikan feedback dan tidak mau menerima feedback, tidak mau melibatkan karyawan dalam proses perencanaan operasional, berperilaku kasar pada karyawan, mengintimidasi (mengancam) karyawan, tidak percaya pada hubungan yang saling mempengaruhi antara pekerjaan dan keluarga, menghujani karyawan dengan tugas yang terlalu banyak dan memberikan tenggat waktu yang tidak mungkin dicapai.
Saya yakin Anda masih bisa memperpanjang daftar tersebut! Silahkan tambahkan. Tetapi yangpaling penting adalah temukan dengan tepat, yang mana perilaku pimpinan Anda? Dengan menemukan perilaku secara tepat, Anda dengan mudah akan menemukan solusinya. Tanda-tanda itu hanya terdiri dari tiga kategori besar, pertama adalah tidak mampu me-manage, kedua delegator, ketiga diktator.
Kategori yang tidak mampu me-manage, mudah dicermati, misalnya adalah ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Boss tipe ini sangat tidak cermat dan tidak berhati-hati dalam membuat keputusan atau penugasan. Ia bahkan tidak memiliki keahlian berkomunikasi dengan orang lain. Boss tipe ini biasanya sudah bekerja sukup lama di perusahaan yang sama, dan tiba-tiba dipromosikan sebagai manajer lebih dikarenakan manajemen tidak menemukan orang lain dari luar yang lebih senior daripada orang ini. Sehingga manajemen memutuskan mempromosikan orang lain dari dalam. Manajemen salah? Bisa jadi.
Bahwa orang yang telah bekerja bertahun tahun bukan berarti dia berpengalaman sekian tahun, tetapi bisa jadi pengalamannya hanyalah satu tahun dikalikan masa kerjanya. Statis!
Kategori yang berikut ini, tipe delegator, bisa dibilang sangat efisien diatas kertas. Tetapi sewaktu berhadapan dengan orang-orang ia sangat nol. Golongan ini sangat menikmati memberikan tugas demi tugas pada karyawan. Ia bahkan seringkali lupa bahwa tugas itu sudah dia berikan pada karyawan lain. Dan lebih parah lagi, tipe ini sangat bangga bila ia harus terus menerus mengulang tugas-tugas rutin yang sudah diselesaikan oleh karyawannya. Tipe ini banyak ditemukan di kalangan birokrat kita. Gaya delegasinya khas dengan mempertontonkan kewenangan daripada penguatan ketrampilan. Tipe ini tidak suka melakukan supervisi, Ia cenderung menjadi hakim atas hasil kerja karyawan daripada membimbing karyawan menyelesaikan tugasnya. Anda pikir, tipe pimpinan ini pulang tepat waktu? Tidak. Ia justru pulang paling akhir dan lebih sering membiarkan karyawannya menunggu karena tidak berani pulang lebih dahulu! Karyawan terpaksa menjadi korban atas tipe pimpinan semacam ini.
Sementara itu, kategori diktator, adalah kebalikan dari yang tipe delegator. Pimpinan tipe ini sangat menyukai memperhatikan semua hal termasuk yang sepele sekalipun. Bahkan ia mungkin akan mengomentari isi tas kerja Anda yang berantakan! Ia lebih senang memerintah daripada mendelegasikan. Tetapi sangat sedikit yang ia perintahkan kecuali hal-hal sepele yang dia anggap tidak ada nilai resikonya layak dilakukan oleh karyawan. Ia memang bagus dalam hal ‘kerjakan semuanya sendiri’, tetapi tipe pimpinan diktator sangat tidak memberdayakan karyawan. Yang paling buruk adalah apabila diktator ini dipindahkan ke tempat kerja yang lain, maka tim kerja yang ia tinggalkan menjadi mandul. Boss ini tidak menyadari bahwa karyawan membutuhkan tantangan kreatif yang memungkinkan membuat mereka semakin dewasa dan bertambah keahliannya. Itu tidak akan pernah terjadi, soalnya Bad Boss tipe ini lebih senang membiarkan Anda chatting atau memerintahkan Anda melakukan tugas lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan daripada mengganggu kesibukan dirinya. Tetapi begitu keadaan genting, ia akan memasang kacamata kuda pada seluruh karyawannya agar hanya melihat pekerjaan. Tidak ada alternatif apapun, hanya pekerjaan! Selesaikan itu atau saya pecat kamu!
Dalam tiga kategori bad boss itu, pimpinan Anda termasuk yang mana? Seandainya Anda tidak menemukan bahwa pimpinan Anda layak masuk dalam salah satu kategori itu, saya sarankan Anda mengkaji kembali penilaian Anda!
Barangkali Anda sedang menghadapi situasi yang benar benar kacau! Karena bila Bad Boss Anda tidak masuk dalam salah satu dari tiga golongan itu, maka berarti pimpinan Anda itu termasuk Devil Boss...!
Buatlah pelaporan rutin. Pilih sesuai yang dikehendaki si boss atau peraturan perusahaan, bisa mingguan, dwi mingguan atau bulanan. Tetapi yang lebih penting adalah membahas laporan itu bersama si Boss. Anda perlu menciptakan kesempatan berkomunikasi terstruktur dengan si Boss. Meskipun pada awalnya beliau tidak menyukai. Mengembangkan hubungan sinergis pimpinan – karyawan bisa dimulai dengan cara formal seperti ini.
Fokus pada masalah, bukan pada si Boss. Buatlah pemikiran semacam praduga tak bersalah. Mungkin si Boss bukan masalah itu sendiri, tetapi mungkin cara berkomunikasi yang berbedalah yang menyebabkan terjadinya masalah. Bicarakan tanpa perlu menyimpannya dalam hati.
Bekerja dengan Boss, bukan bersaing melawan Boss. Intinya adalah membangun chemistry (rasa suka) antara Anda dengan pimpinan. Rasa suka ini bisa muncul tanpa harus dipaksakan dan diskenariokan. Tetapi syaratnya adalah salah satu pihak musti proaktif. Biarkan Boss merasa bangga atas hasil kerja Anda, meskipun mungkin pimpinan yang lain memuji Boss Anda.
Menjadi lebih produktif adalah salah satu solusi terbaik. Tetapi Anda harus memposisikan bahwa produktifitas Anda yang meningkat itu juga diketahui oleh pimpinan yang lain selain pimpinan langsung Anda.
Rencanakan pertemuan diluar kantor. Disengaja atau tidak? Hmm, Anda yang tahu. Saya sarankan sebaiknya disengaja. Jangan menunggu ketidaksengajaan yang sangat sulit datang. Pelajari dulu apa kesukaan si Boss, sesuaikan kesukaan Anda, dan kunjungi tempat-tempat tertentu yang ia senangi. Sekali waktu ajak dengan sopan dan dengan ceria untuk minum di tempat yang ia sukai itu. Anda akan mendapati raut wajahnya tiba-tiba berbinar mengetahui bahwa Anda tahu tempat favoritnya. Gunakan dialog, dari hati ke hati. Hindari debat, dari kepala ke kepala.
Pindah kerja saja. Tentu ini saya sarankan bila semua upaya yang Anda lakukan tadi tidak ada hasil apapun. Soalnya Anda sedang berhadapan dengan Devil Boss, bukan sekedar Bad Boss..... Hanya Anda sendiri yang tahu kapan keputusan ini musti dilakukan dan apa langkah-langkah sebelum dan sesudahnya...!
![]() | Hari ini | 118 |
![]() | Minggu ini | 542 |
![]() | Bulan ini | 7819 |
![]() | Total | 702796 |