Rutin setiap bulan sekali, saya antre di sebuah bengkel besar dan terkenal untuk check up mobil baru saya. Saya senang dengan aktifitas rutin ke bengkel ini, pas dengan selera saya mencintai mobil. Tetapi tidak hanya karena cinta pada mobil saya sehingga saya senang berkunjung ke bengkel ini, tetapi karena saya senang mengamati! Obyek yang kali ini sedang saya amati adalah aktifitas seorang manajer operasional di bengkel itu! Jadi, saya selalu datang amat sangat pagi sebelum tamu-tamu lain berdatangan.
Setiap pagi hari sebelum masuk ruang kerja, saya lihat si manajer meraba setiap ujung meja ruang tunggu tamu. Ia tidak pernah tidak menerawang satu persatu gelas-gelas air minum yang berjejer rapi dan kemudian selalu melongok kebawah kursi- kursi tamu. Ia menghabiskan dua menit untuk memarahin office boy bila menemukan ada satu gelas dengan noda air yang tampak kurang bersih dikeringkan. Ia menjewer pelan telinga seorang perempuan staff resepsion sambil menunjuk beberapa lembar kertas bekas yang tampak terserak di bawah meja kerjanya. Padahal kertas-kertas itu tidak terlihat oleh pandangan tamu! Para pegawai sampai hapal betul menit demi menit yang dia lakukan setiap pagi hari di ruang tunggu ketika tamu- tamu belum berdatangan.
Hampir jam 8 pagi, sebelum jam bengkel buka, Ia keluar ruang kerjanya dan berjalan pelan-pelan kesetiap sisi paddock perawatan mobil. Ia mengambil beberapa kunci pas dan obeng dari tool box. Sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, si manajer melap alat-alat itu. Ia kemudian di padock itu dan memarahinya. Seluruh tehnisi bengkel yang sedang mempersiapkan peralatan kerjanya menyaksikan hal itu.
Sang manajer kemudian berjalan ke paddock berikutnya, dan kembali memeriksa satu persatu peralatan dan sekarang Ia tidak menemukan alat kotor. Saya tersenyum senang memperhatikan bahwa Ia tidak punya bahan apapun untuk marah-marah. Tetapi saya lihat Ia kemudian menekan tombol dongkrak elektrik dan menyaksikan dongkrak itu terangkat keatas perlahan-lahan dengan suara mendecit yang tidak biasa. Buru- buru ia mematikan tombol itu dan ia menemukan lagi satu korban yang perlu ia marahin pagi itu. Semua tehnisi di ruangan itu mendengar ia marah-marah dan melihat si tehnisi dengan kepala tertunduk malu menerima amarah pagi itu. Sang manajer itu kemudian menepuk pundak si tehnisi, dan berjalan menuju paddock berikutnya. Ada delapan paddock yang setiap pagi Ia periksa satu persatu.
Bagi saya, ini mengherankan! Sang manajer marah-marah seperti itu tetapi dengan raut muka yang saya lihat datar saja, tidak marah yang meluap-luap. Saya sempatkan diri menanyakan hal itu pada sang manajer. Mengapa setiap pagi ia harus marah-marah begitu? Jawabnya, sambil tersenyum, itu adalah sarapan pagi!
Ya ya ya, semoga Bapak mendapatkan gizi yang cukup baik dengan menu sarapan seperti itu, kata saya. Tetapi sang manajer menjawab dengan senyum khasnya, ”Itu bukan sarapan untuk saya, tetapi untuk tim saya!” Di awal mulanya bengkel besar itu berdiri, setiap hari ia menemukan setidaknya 18 hal yang membuat ia harus marah!
Oh, ok! Saya tidak melanjutkan omongan apapun. Saya meninggalkan ruang paddock dan kembali duduk di ruang tunggu. Ruang itu sudah penuh dengan tamu-tamu seperti saya yang lagi antre menunggu mobil kesayangan mereka dirawat. Persis jam sembilan pagi, si manajer itu masuk ke ruang tunggu. Ia menyapa seorang wanita yang duduk agak jauh dari kursi saya, ”Selamat pagi Ibu Nana, apa kabar hari ini?” Ia menghabiskan beberapa menit bicara dengan wanita itu. Saya sempat terkesiap dengan cara ia menyapa wanita .
Dalam pandangan saya, Ia tebar-tebar pesona bak politikus ulung. Senyum sana senyum sini pada semua orang yang duduk diruangan. Sampai akhirnya, Ia berdiri tepat di hadapan saya, menyodorkan sebuah gelas berisi air dingin, sebuah koran baru yang masih terlipat dan sebuah senyuman. Si manajer itu menyapa saya tepat dengan nama saya! Bahkan saya tidak tahu kapan kita pernah kenalan! Mari kita cermati gaya kepemimpinan si manajer bengkel itu!
Apakah bengkel itu menjadi besar dan terkenal karena cara kerja si manajer itu? Ataukah karena Bengkel itu besar dan terkenal maka membutuhkan seorang manajer yang mampu bekerja dengan cara seperti itu? Kalau dilihat dari sejarahnya,saya tahu persis bahwa si manajeritu sudah bekerja disitu sejak awal sekali bengkel itu buka. Tetapi, gaya kepemimpinan si manajer sampai sekarang tidak berubah. Saya tahu, beberapa orang tehnisi sudah keluar masuk. Pergantian staff resepsionis sering terjadi. Artinya, turn over karyawan, cukup tinggi. Bisa dinilai bahwa gaya kepemimpinan si manajer itu tidak ’terlalu menyenangkan’ anak buahnya.
Tetapi bagi tamu-tamu seperti saya, tingkat kepuasan pelayanan di bengkel itu cukup tinggi. Saya sendiri sering ngobrol dengan tamu-tamu lain, mereka juga tidak berniat pindah ke bengkel lain. Cukup puas disitu. Mereka seperti saya selalu menerima SMS dari bengkel itu, yang isinya ucapan terima kasih atas kepercayaan merawat mobil di bengkel itu. Tetapi, gaya si manajer itu lho, yang mengherankan. Di depan seluruh staff Ia bisa begitu keras dan tegas tidak mentolerir satupun kesalahan kecil, tetapi bisa sekaligus begitu ramah dan menyenangkan bagi tamu- tamunya. Apakah si manajer ini termasuk golongan Bad Boss ? Apakah ia pemain sinetron yang bisa memainkan dua karakter sekaligus?
Baiklah, sudut pandang Anda akan menyajikan relatifitas jawaban Anda. Bila Anda memandang dari sudut staff bengkel itu, bisa dibilang si manajer ini termasuk tipe Bad Boss! Bahkan mungkin Killer Boss, terbukti dengan beberapa orang staff yang keluar di awal berdirinya bengkel itu. Tetapi, mari kita lihat, sebagian staff dan teknisi yang masih bertahan tampaknya mulai mengerti mengapa mereka sering mendapatkan sarapan pagi seperti itu. Ada sebuah tujuan besar yang akan diraih. Ada target tertentu yang perlu dicapai dengan cara temukan langsung seperti itu daripada briefing di ruangan. Seandainya Anda seorang staff yang bekerja bertanggung jawab untuk pimpinan tipe seperti ini bagaimana pendapat Anda? Ada dua golongan pendapat. Satu adalah Anda boleh setuju dengan pendapat diatas, yang intinya membenarkan cara si Boss. Atau kedua, adalah Anda bisa saja mencap pimpinan dengan sebutan Bad Boss, dan sambil berdoa berharap ia segera di mutasi ke tempat lain.
Terlepas dari yang manapun pendapat Anda, sebaiknya Anda memiliki sebuah pemahaman mengenai bagaimana cara pimpinan bekerja itu ditentukan oleh target yang lebih besar. Sebuah investasi ditanamkan untuk membangun bengkel itu harus dikembalikan dalam bentuk keuntungan dalam waktu yang sudah ditargetkan. Beban tanggung jawab pimpinan lebih besar pada pekerjaan- pekerjaan yang tidak Ia lakukan sendiri. Maka, dibentuklah sebuah sistem yang mendelegasikan bagian-bagian pekerjaan kepada setiap unit atau staff-staff bengkel. Tetapi tanggung jawab sepenuhnya tetap pada si manajer.
Beban tanggung jawab inilah yang kemudian membentuk kualitas kepemimpinan seorang pimpinan. Tanpa beban tanggung jawab apapun, tidak akan muncul leadership!
Manajer bisa menerapkan model-model kepemimpinan yang bisa berbeda-beda pada kelompok orang yang berbeda, dan pada situasi yang berbeda pula. Para manajer diidentikkan sebagai seorang yang disegani. Soalnya Ia bertengger dilevel kekuasaan yang tidak mudah dijangkau sembarang orang. Bagaimanapun caranya menjadi seorang pemimpin, entah karena warisan atau perjuangan, Ia tetaplah seorang yang harus mampu mengendalikan. Karena itulah Ia disegani. Apakah kemudian Ia menjadi pemimpin yang juga disenangi oleh anak buah dan rekan-rekan sekerjanya? Itu masalah cara kepemimpinan. Dalam tugasnya, seorang manajer bisa menerapkan berbagai model kepemimpinan. Ia bisa menjadi pengayom bagi anak buah. Kadang kala menjadi bemper tanggung jawab dan bisa juga sebaliknya, menjadi penembak jitu untuk menemukan kambing hitam. Seorang pemimpin kadang perlu menjadi diktator, tetapi kadang kala menjadi sangat egaliter. Inilah yang disebut situational leadership. Memimpin dengan gaya apapun bisa fleksibel, tergantung situasi pada saat itu dan situasi yang diprediksikan akan terjadi dimasa depan.
Maka, bisa dipahami, seorang manajer bisa menjadi Bad Boss, sekaligus menjadi Nice Boss. Tergantung sudut pandang Anda.
Tetapi, rasanya masih ada pimpinan yang benar-benar Bad Boss....apapun alasannya, ia tetap Bad Boss... tidak ada hujan tidak ada angin, ia akan mencari kesalahan siapapun..... bukan sekedar untuk sarapan pagi, tetapi untuk sebuah kesenangan dan kepuasan dirinya sendiri. Bad Boss tipe ini benar-benar bebal, ia lebih tepat disebut sebagai ”problem maker” daripada ”leader”. Model ini banyak membuat sejarah penghancuran tim kerja.
Wah..... kita tunggu di edisi berikutnya! Salam Leader.
DanG
![]() | Hari ini | 118 |
![]() | Minggu ini | 542 |
![]() | Bulan ini | 7819 |
![]() | Total | 702796 |