”Cara itu tidak bisa dilakukan! Saya pernah melakukan dengan cara itu dan tidak pernah berhasil!” Seru Executive General Manager pada lima belas anak buahnya. Suasana pertemuan itu terasa panas. Anggota-anggota mulai berdebat dan berusaha mempertahankan pendapatnya masing-masing. Tidak ada yang lebih benar daripada idenya sendiri. Mereka terdiri dari 15 orang manager, duduk mengelilingi meja oval disebuah ruangan ber AC yang nyaman. Tetapi dinginnya hawa AC tidak mampu mendinginkan suasana panas itu.”Pak, kalau bisa benar-benar mencermati ide saya yang pertama saya sampaikan itu, maka kita bisa lebih hemat biaya listrik. Kita siapkan beberapa contact breaker di setiap lantai. Sehingga bila tidak sedang high occupied, bisa dimatikan arus listrik ke lantai-lantai yang kosong. Ini menghemat biaya listrik lebih dari 20 persen.” jelas Manager Engineering.
”Tidak, begitu pak! Pengalaman membuktikan bila kita berusaha menghemat listrik akan memanaskan suhu ruangan. Seandainya tamu tiba-tiba datang ke lantai itu, akan tidak nyaman dan merusak image yang sudah dibangun. Kita perlu ide yang lebih cerdas daripada itu!” kembali si Executive GM membuang ide itu. Sebuah jabatan yang susah disebut dengan nama lain, tetapi kira-kira mirip wakil general manager.
”Kalau ide brilian saya adalah, kita membeli sebuah generator pembangkit yang lebih besar dan bisa on demand-standby bukan sekedar cadangan bila jaringan listrik mati. Jadi tidak lagi tergantung pada listrik PLN yang semakin
mahal itu.” usul Sales Manager.
”Tidak bisa dilakukan Pak. Sepanjang pengalaman saya tidak pernah ada budget untuk membeli generator yang mahal itu. Lagi pula biaya maintenance dan bahan bakar akan mencekik kita setiap bulan. Belum lagi tenaga spesialis yang harus direkrut!” Kembali lagi si Executive GM mementahkan setiap ide yang muncul.
Sebelumnya, belasan ide sudah dilemparkan, mulai dari ide untuk melibatkan semua karyawan untuk menyumbang ide demi terwujudnya ide penghematan biaya. Bahkan ada ide-ide yang dilemparkan ke meeting, misalnya ide
memasang water heater dengan sistem solar cell untuk menggantikan pemanas air berbahan bakar gas. Tetapi semua ide yang telah dilontarkan itu seolah menguap. Setiap orang peserta rapat menjadi hampir frustasi karena ide-ide yang dilontarkan langsung dimentahkan oleh sang Executive GM yang menganggap dirinya sangat penuh pengalaman itu.
Kemudian seorang Room Division Manager yang kebetulan belum frustasi angkat bicara, ”Menurut saya, cuting expenses tidak sekedar dari biaya listrik, tetapi bisa dilakukan dengan .....”
Belum selesai dia bicara, sang Executive GM memotong kalimat itu dengan, ”Mengapa harus menghemat dari pos biaya lain? Listrik menjadi cost terbesar untuk operation hotel ini. Anda semua musti serius memikirkan masalah ini. Dan jangan coba-coba main-main. Saya sudah 20 tahun berpengalaman dalam operation hotel seperti ini. Jadi jangan buang-buang waktu dengan ide-ide murahan itu. Begini saja, saya tampung semua ide-ide, dan nanti saya akan memikirkan semuanya dan lakukan kajian sehingga barangkali bisa diterapkan.”
Maka, meeting pagi itu berjalan lebih dari satu jam hanya untuk adu lontaran ide-ide yang sudah pasti akan dibuang ke tempat sampah. Yang jelas hasil positif yang diperoleh dari meeting pagi itu adalah rasa frustasi.
Para Leader, apa yang muncul dalam benak Anda mengetahui sekilas cerita diatas? Anda
pernah mengalami hal ini? Situasi seperti ini sangat sering terjadi di dunia kerja. Orang-orang yang menyebut dirinya sendiri dari kalangan profesional, cenderung memiliki kemampuan berlebihan untuk meletakkan kemampuan dirinya sendiri lebih tinggi daripada orang lain.
Situasi ini mengakibatkan semangat tim kerja untuk berkontribusi dalam urusan perusahaan melemah. Bukannya
tim kerja tidak mau menyumbangkan ide-ide dan berniat mengaplikasikannya dilapangan. Tetapi mereka merasa disejajarkan dengan kotak sampah. Karena mereka sudah disudutkan dengan indoktrinasi si Boss ”lebih pengalaman”.
Lantas, bagaimana mengatasi situasi ini? Apakah benar, bahwa Boss tertinggi yang ditempatkan di sebuah unit perusahaan selalu dipilih dari orang-orang yang dinilai ”berpengalaman” ? Lantas, seandainya ini benar, dimana letaknya kesempatan bagi mereka yang baru memiliki pengalaman di sebagian departemen tertentu untuk naik ke jenjang lebih tinggi?
Jelas, model kepemimpinan seperti ini layak masuk dalam kategori Bad Boss. Pimpinan model ini, amat sangat bangga dengan pengalamannya, bahkan tadi ia sebutkan sudah 20 tahun pengalaman. 20 tahun pengalaman dengan penuh dinamika tantangan, kesulitan dan peluang? Begitukah? Saya rasa tidak. Menurut saya, tipe Bad Boss ini lebih cocok dikategorikan memiliki pengalaman 1 tahun kali 20. Ia mungkin seorang yang dengan pengalaman kepemimpinan yang sangat terbatas. Menurut saya, Ia hanyalah sebuah model pemimpin yang pintar melemahkan kepintaran anggota tim kerjanya.
Buktinya? Lha, mudah saja diketemukan. Dengan sedikit kejelian, kita bisa menemukan bahwa tipe Bad Boss ini tidak benar-benar komunikatif. Dia cerdas, dan tegas. Sayangnya adalah, dia memang jagoan bicara, tetapi tidak jagoan mendengarkan. Dia memang jagoan menempatkan dirinya sebagai Big Boss, tetapi sangat tidak mumpuni untuk mampu menghargai anggota tim kerjanya.
Maka, jangan salahkan orang lain bila anggota tim kerja lebih sering apatis ketika diminta sumbang saran atau berkontribusi terhadap sesuatu hal. Mereka lebih senang melakukan hal-hal rutin yang aman daripada beradu argumentasi dengan boss tipe ini. Bila Bad Boss tipe ini ditaruh di sebuah unit yang sebenarnya sudah bagus, dengan mudah dan dalam waktu singkat ia akan menurunkan prestasi unit itu. Tipe ini stagnan, sangat sedikit atau bahkan tidak ada inovasi apapun yang bisa dihasilkannya untuk meningkatkan prestasi. Bahkan semangat tim kerja dengan mudah luntur, karena si Bad Boss ini senang pujian dan menganggap apapun yang esuai dengan target atau melebihinya.
Tidak penting apakah kemudian anggota tim kerja terluka dengan model komunikasinya yang seringkali mengabaikan kontribusi orang lain. Salah satu nilai buruk atau baik (tergantung kondisi dan sudut pandang) yang mudah ditemui dari tipe Bad Boss ini, adalah ia memandang kontribusi anggota tim sudah semestinya. Bukan sebuah kontribusi yang musti dihargai secara lebih, tetapi sebuah kepantasan. Ia melihat anggota tim kerja adalah komponen organisasi yang dibayar untuk bekerja dan karena itulah mereka semestinya bekerja dengan kontribusi untuk organisasi.
Perilaku non-assertive Bad Boss model ini biasanya tidak mereka sadari namun mereka bisa menjadi pemimpin teladan yang kuat. Prestasi kerjanya diukur dari lapisan atas yang memantau performanya, meskipun sebagian besar orang dibawahnya merasa menjadi korban.
Lantas, bagaimana mensiasati Bad Boss tipe ini? Jelas ini membutuhkan kearifan tersendiri bagi anggota yang kebetulan mendapatkan anugerah pemimpin tipe ini. Salah satu cara baik untuk tetap berkontribusi positif terhadap organisasi adalah dengan mengabaikan nilai-nilai emosional dan mengedepankan nilai-nilai profesional. Artinya, bila berhadapan dengan Bad Boss tipe ini, Anda bisa melakukan dengan beberapa strategi. Berikut ini
misalnya:
Gunakan tehnologi. Pimpinan Anda pasti juga menggunakan tehnologi serupa dengan Anda. Bila Anda merasa perlu berkontribusi terhadap sesuatu program, tuliskan ide atau solusi Anda. Gunakan prinsip SAE (simple, accurate, eye-catching). Print dengan baik dan sebarkan via milis internal yang menunjukkan kontribusi Anda.
Jelas tanpa perlu menggunakan kata-kata yang merendahkan kontribusi orang lain. Anda bukan tipe Bad Boss
ini khan?
Perkuat kredibilitas Anda. Anda perlu memastikan bahwa Anda bersikap sesuai dengan perkataan Anda. Anda menunjukkan bahwa Anda leader yang memiliki perilaku yang pantas di lingkungan yang Anda kuasai. Segala yang diukur dari diri Anda adalah komitmen Anda. Maka apapun perlakuan orang lain terhadap Anda, itu tidak perlu merobah komitmen Anda pada keberhasilan dan performa organisasi atau tim kerja yang Anda pimpin. Kredibilitas Anda juga diukur dari apakah Anda over promise atau under deliver. Tidak perlu terlalu banyak menjanjikan dan
jangan sampai menghasilkan dibawah target!
Jangan menjadi korban. Jika Anda bekerja benar-benar dibawah Bad Boss yang benar-benar sangat Bad Boss, Anda tidak memiliki kesempatan apapun untuk memanage dia. Artinya, apapun yang Anda lakukan adalah buruk dan jelek dimata dia. Strategi terbaik adalah meminimalisir kontak, bagunlah jaringan dukungan seluas mungkin tanpa perlu menghasut orang lain untuk melawan. Anda harus mengembangkan hubungan yang kuat dengan pimpinan lain yang setara dengan pimpinan langsung Anda. Anda perlu membangun hubungan yang sangat sinergis dengan pimpinan diatas pimpinan langsung Anda itu.
So, bagaimana pengalaman Anda ?
Salam Leader.
DanG
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |