BAD BOSS
Teror dari Asisten Boss
Selama satu setengah tahun ini kami terpaksa bekerja dibawah asisten direktur. Ia direkrut atas kemauan direktur tanpa melalui HRD yang berwenang. Sebenarnya, kami sebagai staff memahami kesibukan direktur sehingga ia perlu seorang asisten yang membantu tugas-tugas administratifnya di kantor. Direktur memang jarang sekali datang ke kantor, satu kali seminggu hadir untuk rapat BOD. Jadinya, asisten yang digaji oleh direktur sendiri itu yang sehari-hari datang ke kantor. Pada awalnya, kami tidak mempermasalahkan hal itu. Demikian juga divisi HRD dan direktur lain.
Tetapi, tidak lama kemudian situasi berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada satupun yang benar dihadapannya. Ia bahkan sangat sering mengintimidasi karyawan dengan kata-kata jorok dan memojokkan kami. Laporan mingguan rutin yang kami buat saya kira tidak pernah sampai ke direktur. Saya kira ia menyimpannya di laci meja dan membuat laporan sendiri yang kami tidak tahu apa isi laporan itu.
Bahkan, yang keterlaluan, asisten kerap kali membuat penugasan yang tidak jelas kepada karyawan. Ia senang banget memberi perintah dan deadline yang tidak masuk akal. Bila kami sudah selesaikan tugas itu, ia tetap saja meremehkan tugas itu dengan kata-kata yang menyingkirkan peran kami, dan meng-klaim bahwa itu adalah hasil kerja dia sendiri.
Dia sangat ahli membuat situasi kerja ini kacau oleh kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan direktorat kami. Ini sangat menyakitkan kami sebagai staff senior di kantor ini.
Direktur sama sekali tidak mengetahui bagaimana asistennya berperilaku. Asisten telah bersikap seolah sebagai atasan direktur kami tanpa beliau ketahui. Ia super boss dibalik kesibukan boss kami yang sesungguhnya.
Dua minggu yang lalu, kami dan seluruh staff diundang rapat direktur. Dalam rapat itu, beliau marah besar. Beliau bahkan sampai bicara kalau akan mengganti staf-staf senior bila kinerja kami tidak sesuai yang diharapkan. Dalam rapat itu, kami bahkan tidak diberi kesempatan untuk konfirmasi dan menanyakan dimana kekurangan kami. Direktur amat terlalu sibuk dan menutup meeting itu dengan hanya mau mendengar laporan dari asisten.
Kami merasa telah diblok oleh asisten direktur sehingga kami tidak bisa menyampaikan informasi kepada beliau. Bahkan asisten kami nilai sangat tidak menguasai pekerjaan yang kami lakukan dan kami khawatir dia memberikan informasi yang keliru kepada direktur. Apa yang bisa kami lakukan?
Ini adalah sebuah email yang sudah kami ubah sedikit bahasanya tanpa mengurangi inti masalah yang disampaikan. Identitas pengirim kami samarkan.
Kita banyak menemukan kejadian bahwa direktur merekrut seseorang atau lebih asisten. Terutama bahkan banyak terjadi di birokrasi negara ini. Asisten pribadi tidak terlalu banyak diketemukan di perusahaan-perusahaan menengah dan besar. Biasanya, kebutuhan untuk menempatkan asisten pribadi berawal dari kesibukan pimpinan yang over-load. Apalagi, bila di direktorat (departemen atau kementerian) biasa diketemukan banyaknya rangkap jabatan sehingga pimpinan menjadi sangat jarang ditempat. Maka, pada awalnya, kebutuhan untuk menempatkan tenaga ahli atau sering disebut asisten menjadi cukup tinggi.
Masalah yang muncul kemudian, bukannya asisten membantu memperlancar tugas-tugas direktur, tetapi malahan menjadi masalah karena berperan sebagai perantara karyawan senior dengan atasan mereka langsung. Seharusnya tercipta komunikasi dua arah langsung antara karyawan senior dengan direktur, berubah menjadi komunikasi termediasi.
Mode komunikasi termediasi ini membuat proses filtering semakin menjadi-jadi. Informasi yang disampaikan oleh karyawan senior kepada pimpinannya melalui asisten otomatis akan difilter oleh asisten. Sadar atau tidak sadar, itu telah terjadi.
Asisten, akan berusaha menyenangkan pimpinannya yang secara langsung menggaji dia. Dia memahami kesibukan pimpinannya, dan secara naluriah ia akan berusaha menyederhanakan hujan informasi dari karyawan-karyawan senior sebelum sampai ke meja pimpinannya. Inilah filtering.
Filtering adalah proses alami.Tetapi jika filtering dilakukan oleh orang yang tidak kompeten pada tugas dan atmosfer team kerja akan mengakibatkan informasi terpenggal-penggal tanpa roh. Kadang-kadang yang menjadi inti informasi malahan terbuang atau terbengkalai karena terfilter dan tergantikan oleh informasi lain
yang bukan inti.
Asisten ini, direkrut untuk menjadi penampung informasi (laporan), mustinya bukan untuk menggantikan peran pimpinan dalam mengambil keputusan. Mustinya lagi, ia berperan untuk menyampaikan informasi dari pimpinan ke team kerja. Disinilah masalahnya. Peran itu tidak dimainkan dengan sepantasnya. Malahan yang terjadi si asisten meng-copy kedudukan direktur, bukan leadership direktur.
Meskipun posisi jabatan bisa sama, namun leadership si pemangku jabatan tidak selalu sama. Aktualisasi leadership tergantung pada kepribadian seseorang.
Menghadapi sistuasi seperti ini, perlu pendekatan spesifik, bukan pendekatan generic yang bisa dipakai semua orang dalam kasus lain atau kasus yang mirip-mirip. Anda menghadapi bad boss artificial. Bukan sungguh-sungguh boss. Sebelum bertindak solutif, coba bandingkan, bagaimana situasi kerja sewaktu direktur masih bertugas dan bandingkan dengan situasi sekarang ketika ditengahi oleh asisten.
Jika situasi buruk ini memang tidak jauh berbeda, maka masalahnya Anda menghadapi dua Bad Boss. Tetapi jika direktur Anda tidak seperti asisten itu perilakunya, maka Anda hanya menghadapi bad boss, boss teroris.
Mengapa saya sebut boss teroris? Jelas. Karena ia sebenarnya hanyalah cermin dari perilaku teror. Ia tidak punya kekuatan atau kewenangan apapun selain menakut-nakuti. Lagipula kedudukannya disitu bukan sepenuhnya menggantikan kekuasaan pimpinan, tetapi mustinya hanya sekedar jembatan penghubung. Tetapi ia memanfaatkan kekuasaan itu tanpa keberanian dan keahlian. Yang mampu ia lakukan adalah menteror karyawan.
Asisten pimpinan seperti ini tampil begitu arogan jauh melebihi kewenangannya. Bentuk teror yang ia lakukan bisa berbagai macam. Mulai dari meremehkan, memotong komunikasi penting, menjebak dengan penugasan sampai ke pelecehan. Targetnya susah diketemukan. Ia mungkin tidak benar-benar berminat menjadi karyawan, tetapi lebih karena memuaskan hasrat emosionalnya. Karyawan menjadi sasaran pemuas baginya.
Tetapi, sekali lagi perhatikan. Apakah ia menteror semua karyawan? Ataukah hanya beberapa orang? Ataukan hanya Anda sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini sangat penting. Anda harus mengamati dengan seksama. Kepada siapa perilaku terror itu ia alamatkan.
Seandainya perilaku itu dia lakukan pada semua karyawan, maka memang ia terroris yang penuh kebencian. Namun seandainya hanya Anda sendiri atau beberapa orang, sebaiknya sebelum Anda berbuat sesuatu, coba refleksikan dari kinerja Anda di kantor. Jangan hanya periksa salah satu komponen task assignment
Anda. Tetapi pada keseluruhannya. Apakah ia berperilaku bad pada salah satu hasil dari tugas Anda, atau pada seluruh tugas Anda apapun hasilnya?
Salah satu cara menghadapinya, jika ia menteror semua orang adalah dengan lakukan spying atau intelligent action. Misalnya dengan diam-diam, gunakan camera digital untuk merekam sewaktu ia melakukan tindak terror itu. Atau, Anda bisa ajak beberapa karyawan sebagai saksi untuk mencatat perilaku buruk yang ia tampilkan. Catat dengan detail, atas kasus apa, kepada siapa, kapan dan dimana. Lakukan berulang-ulang pada berbagai kejadian yang dia lakukan.Sewaktu-waktu catatan atau rekaman-rekaman itu bisa Anda gunakan untuk melaporkan tindakan buruknya itu pada Direktur HRD atau yang berwenang. Trik ini bisa Anda lakukan juga bila ia sedang menerror Anda. Anda perlu bukti-bukti yang bisa memperkuat laporan Anda suatu saat nanti jika Anda perlu melakukan pembelaan diri.
Tetapi, sebelum Anda lakukan saran diatas, untuk menghadapi terror bad boss seperti itu, pertama kali yang perlu Anda lakukan adalah menyusun tujuan yang bisa Anda jangkau secara realistik. Maksudnya adalah, Anda benar-benar harus menjaga keselamatan diri Anda dan alat vital Anda : karir dan reputasi Anda. Jika dia tidak melakukan teror langsung kepada Anda, berarti bukan Anda yang harus melakukan aksi itu. Barangkali teman Anda yang kena terror dari bad boss model ini.
Apa yang bisa Anda lakukan? Tidak Ada. Kecuali Anda tunjukkan artikel Bad Boss di Majalah Kepemimpinan LeadershipPark ini (rubrik rutin Bad Boss) dan bantu teman Anda membacanya dengan seksama agar ia tahu bagaimana tindakan yang akan dia lakukan.
Well, korban dari terror bad boss ini, biasanya menjadi tersingkir dalam posisi yang sangat lemah. Bad news pertama dari bad boss seperti ini adalah: dia tidak mau mendengar Anda! Dan bad news kedua, adalah dia tidak sudi membaca laporan atau memo Anda. Bad news ketiga, adalah, ia menikmati situasi ini.
Lantas, bagaimana mengatasinya? Salah satu hal penting yang bisa Anda lakukan adalah: jauhkan diri Anda dari kontak fisik secara langsung dengan si bad boss model ini. Meskipun susah dilakukan, tetapi Anda sebaiknya bisa menjauh. Kecuali sangat terpaksa, misalnya hadir dalam meeting atau Anda dipanggil olehnya.
Dalam meeting, cukup bagus bila Anda tidak perlu beradu argumentasi mengenai pekerjaan. Coba sampaikan hal-hal selain pekerjaan yang bisa membangkitkan kesenangan dan energi
seluruh anggota tim kerja. Anda bisa mengusulkan misalnya, outbound. Ups....nanti dulu. Anda musti bicara dengan beberapa rekan Anda agar mereka mendukung usulan itu sebelum disampaikan pada forum meeting. Dan pastikan bahwa forum meeting itu memang terbuka untuk usulan-usulan.
Dengan cara ini, ada kesempatan terbuka bahwa Anda didukung oleh beberapa orang rekan Anda. Dan si bad boss itu melihatnya secara langsung. Tentu saja Anda harus menyampaikan usulan itu dalam kerangka yang jelas: demi kegairahan dan kesegaran organisasi, dengan tanpa menunjukkan mimik kebencian!
Apakah dengan ini menjamin si bad boss akan melunak sikapnya terhadap Anda? Belum tentu juga. Tetapi pada intinya adalah, gunakan teknik: usulkan sesuatu yang bermanfaat dalam skup yang lebih besar bagi organisasi atau tim kerja. Siapa yang tidak akan tertarik dengan usulan positif seperti itu? Bisa jadi dia tertarik. Meskipun masih terdapat ketegangan karena kebencian terhadap Anda.
Jurus itu bukan satu-satunya jurus jitu. Masih ada beberapa jurus yang bisa Anda pakai. Bad boss terroris seperti dia bekerja dengan penuh kebencian. Benci pada Anda atau benci pada orang lain, benci pada semua orang taupun benci pada semua hal. Tetapi, kebencian seperti api. Ia akan terbakar lebih hebat bila
dihadapi dengan kebencian. Jangan siramkan minyak pada api.
Membicarakan dengan pimpinan lain meskipun bukan atasan Anda langsung, misalnya Manager HRD atau Direktur HRD adalah salah satu cara yang positif. Tetapi, bila Anda tidak tahu benar keberpihakan si HRD, maka jangan gegabah. Bicarakan dengan segala kemampuan terbaik Anda agar tidak perlu menghakimi orang lain.
Cara lain adalah, jauhkan diri Anda dari gosip-gosip kantor mengenai orang itu. Baik Tidak perlu membuka percakapan negatif apapun. Dengan cara ini Anda telah memotong berkembang biaknya virus-virus negatif. Mencegah pembicaraan semacam ini bisa mengurangi efek negatif sehingga Anda bisa lebih berkonsentrasi
pada pekerjaan.
Cara lain adalah musti dihadapi dengan cara unik, yang hanya Anda sendiri yang tahu. Misalnya, sekali waktu dalam kesempatan yang tepat, Anda bisa menonjolkan bakat dan kemampuan Anda dalam bidang lain, contoh, menggambar desain tata letak ruangan kerja, menjadi MC di acara coffee morning, menyanyi dalam acara family gathering. Atau yang lebih frontal lagi: menyusun proposal ide marketing.Cara-cara itu
memunculkan kepribadian Anda yang berbeda namun tetap mencintai tugas Anda di pekerjaan dan benar-benar membukukan hasil yang positif.
Menghadap pada pimpinan diatasnya lagi memang cara yang cukup realistis dan terbaik. Dalam hal terror bad boss itu datang dari asisten pimpinan, Anda bisa usahakan untuk bicara langsung dengan pimpinan Anda. Tentu saja tidak harus dengan konfrontasi, tetapi bicarakan dengan arif dan sampaikan bukti-bukti catatan atau rekaman digital, atau mengajak satu orang rekan yang bernasib sama dengan Anda.
Seandainya, situasi semakin tidak kondusif, dengan indikasi bahwa terror itu terus menerus dia lakukan, maka semua keputusan ada di tangan Anda. Jika itu mulai mengganggu secara fisik dan emosional Anda, silahkan buka informasi barangkali Anda lebih cocok bekerja di tempat lain. Selama membuka informasi itu, Anda bisa terus bertahan bekerja sebaik-baiknya, sambil membuat persiapan interview dan pindah.
Menciptakan tantangan baru, biasanya menyenangkan. Mungkin Anda termasuk yang senang dengan hal-hal baru. Maka, bersiap pindah kerja, sambil sembunyi-sembunyi bisa membuat kesenangan tersendiri. Tentu saja tanpa harus meninggalkan kewajiban Anda ditempat ini meskipun Anda menghadapi Boss Terroris.
Salam Leader
DanG
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |