Keberhasilan atau kegagalan mencapai target kualitas dalam tahun pertama ia direkrut adalah salah satu indikator leadership. Meskipun dalam penilaian itu tidak boleh melupakan parameter lain yang mempengaruhi misalnya situasi dan kondisi persaingan pasar atau perubahan kebijakan dari top manajemen.
Namun, dalam kondisi yang normal tanpa situasi yang ekstrem, sekian banyak penelitian di dunia kerja ternyata terbukti bahwa belasan tahun pengalaman sebagai manager tidak selalu membuktikan kinerja terbaik mereka di tempat kerja baru. Mengapa bisa begitu?
Salah satu jawaban diketemukan adalah karena dari sekian tahun pengalaman si manager ternyata hanyalah duplikasi pengalaman satu tahun mereka dikalikan sekian tahun masa kerja.
Artinya, manager yang baru saja direkrut itu telah pengalaman bekerja dalam kungkungan ritme birokratis yang begitu kaku sehingga mereka tidak memiliki pengalaman melakukan inovasi-inovasi yang mengarah pada perubahan mekanisme kerja. Belasan tahun pengalaman mereka cenderung hanya mengeksekusi mentah-mentah perintah boss diatasnya atau sistem manajemen yang baku. Bukan dengan kreatifitas atau terobosan baru yang aplikatifyang membukukan perbaikan-perbaikan.
Manager dengan pengalaman seperti ini jelas kurang cocok bila direkrut untuk tugas penting: meningkatkan kinerja tim kerja di tempat baru yang diperlukan banyak inovasi dan mempertaruhkan hasil jangka panjang. Mereka lebih cocok statis di tempat lama yang tidak memiliki perubahan radikal.
Beberapa faktor diketemukan yang menyebabkan kegagalan manager yang baru direkrut adalah selain karena atmosfer (lingkungan) kerja yang berbeda dan membutuhkan beberapa saat untuk adaptasi, masalah lainnya inkompetensi leadership.
Kemampuan leadership tidak mudah diketemukan oleh pewawancara. Bahkan seorang manager HRD yang mewawancarai calon manager-pun hanya menggunakan CV sebagai acuan wawancara. Metode pengukuran dengan tools-tools yang modern hanya bisa efektif untuk para pelamar baru. Bagi para manajer
yang sudah berpengalaman, ia cenderung sudah tahu bagaimana mensiasati lembar-lembar DISC atau personal profiling tools lain yang digunakan sewaktu wawancara.
Kemampuan leadership yang buruk bisa dengan mudah diketemukan di antara para manager. Bukan karena kesalahan recruitment tetapi lebih karena situasi kerja dan bawaan pengalaman. Para bad-manager
yang kebetulan memiliki bad-leadership cenderung tumbuh menjadi bad boss-pemula.
Lantas bagaimana menyikapi situasi ini? Inilah yang musti diperhatikan para HRD dan pimpinan diatasnya.
- Bad boss pemula ini, kadang-kadang disebut bad manager, hanya lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pribadinya, termasuk demi keamanan jabatannya selama masa percobaan. Bad boss awal ini bakal susah mengembangkan karyawan atau anggota tim kerjanya. Sebab mereka tidak senang meluangkan waktu demi orang lain. Mereka tidak memahami bahwa leadership adalah mengenai aksi bukan status.
- Lantas bagaimana mengetahui kinerja bad boss pemula tipe ini? Bisa dilakukan dengan pengamatan yang cukup. Berikut ini identifikasi tanda-tandanya, misalnya:
- Bad boss ini lebih suka delegasikan hampir semua hal, tanpa mempertimbangkan workload. Ia merasa nyaman dengan cara ini karena seandainya terjadi kegagalan ia bisa menyalahkan karyawan. Ia lupa bahwa tugas bisa didelegasikan, namun tanggung jawab tidak. Manager baru yang lalai memperhatikan beban kerja bisa membuat sebagian karyawan overtime sementara yang lain sedikit tugas.
- Dalam kesempatan diskusi atau sharing informasi, Bad Boss pemula lebih senang mengeliminasi diskusi dengan pertanyaan sederhana yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak. Ia tidak suka mendengar penjelasan. Ia berpikir jangka pendek, tidak menyukai analytical thinking atau asumsi-asumsi yang dilontarkan oleh karyawan.
- Tampak ia belum bisa memisahkan kehidupan pribadinya dari masalah professional. Ia juga cenderung memiliki kebanggaan yang berlebihan dari pencapaiannya di tempat kerja sebelumnya. Hal ini menghambat focus dia pada suasana kerja dan tugas-tugasnya yang baru.
- Seandainya, perusahaan merekrut manager ini dengan alasan karena untuk mengatasi krisis yang sedang terjadi, biasanya hanya menimbulkan masalah baru. Bad boss pemula begini tidak akan mampu melakukan inovasi atau terobosan baru. Ia terpola dengan system kerja lama. Bahkan untuk berpikir proaktif, dia cenderung tidak. Berikan sebuah tugas untuk merancang usulan-suatu reengineering proses, misalnya. Dia tidak akan berhasil menyelesaikan proposal itu sampai tuntas.
- Bad boss pemula ini juga cenderung tidak menghargai kontribusi orang lain. Ini mudah dilihat dari sikap tubuhnya, gaya bicaranya dan cara melihat orang lain dalam sebuah rapat formal. Orang lain mudah terluka dari gaya yang dia tunjukkan.
- Diskusikan beberapa hal mengenai situasi perusahaan yang memerlukan bantuannya. Mungkin Anda akan menemukan segudang alasan untuk dia tidak bisa melakukannya.
- Satu lagi, bad boss pemula ini cenderung menilai pekerjaan orang dari jam kerja, bukan dari performance. Ia senang melihat absent daripada pencapaian. Kriteria disiplin yang diterapkannya adalah kenangan masa lalunya. Ia menuntut kejayaan masa lalunya tetap digenggamnya saat ini ditempat lain.
- Bila bad boss pemula ini sedang berada didepan pimpinannya yang lebih tinggi, Anda bisa mengamati bahwa ia sontak berubah. Ia tampak menjadi lebih soft dan manis. Sikap tubuhnya merendah. Sangat beda jika ia dihadapan sub ordinate atau peer groupnya.So, sebuah pilihan sikap bagi para Manager… you could be a Bad Manager atau be a …………….. (Terserah Anda)
Salam Leader DanG