”...orang yang berpendidikan yang nyopet itu tidak disebut pencopet, tapi koruptor...”
Hidup dikota besar memang serasa dalam dongeng. Kadang terasa lebih manis dari madu, lebih pahit dari empedu dan kadang terasa begitu berat bagai memanggul bukit. Ada yang katanya tak berpendidikan tinggi tapi bisa kaya raya makmur sejahtera, tapi ada pula yang sudah sarjana tapi tak kunjung dapat kerja. Usaha demi usaha kadang selalu menemui jalan buntu. Nah disinilah kadang manusia tergiur untuk mencari jalan pintas, tak peduli halal atau haram. Mulai dari rakyat jelata sampai pejabat-pejabat yang ’terhormat’ semua bisa tergiur perngkap yang sama.
Hal ini pula yang dirasakan Muluk (Reza Rahardian) seorang sarjana muda yang hampir dua tahun lulus dari bangku kuliahnya namun tak kunjung mendapat pekerjaan yang bisa dibanggakan kepada ayahnya Makbul (Dedi Mizwar). Meski Ia sudah keluar masuk banyak perusahaan untuk melamar namun manis tak kunjung didapat. Sampai akhirnya sebuah pemandangan (yang sebenarnya umum terjadi di kota besar) terpampang didepannya. Muluk mendapati seorang bocah tanggung ,Komet (Angga), yang seenaknya sedang mencopet seorang lelaki tua di pasar dan memergokinya yang akhirnya membawa Muluk pada pekerjaan barunya.
Perjumpaan tak terduga antara Muluk dan Komet membawanya kepada Jarot (Tio Pakusadewo) yang adalah bos para pencopet. Alangkah terkejutnya Muluk ketika tahu bahwa Jarot dengan rapi mengorganisir sejumlah pencopet yang yang hampir seumuran dengan Komet. Tak hanya itu, Jarot ternyata juga membagi-bagi daerah oprasional para copet cilik ini menjadi tiga kelompok copet yang terdiri dari copet pasar, copet mall dan copet angkot. Walau awalnya sedikit kaget dengan apa yang ia lihat dirumah tua yang kumuh yang dijadikan sebagai basecamp para pencopet cilik itu, namun dari sinilah Muluk mendapatkan ide cemerlang untuk para pencopet cilik ini. Berbekal ilmu manajemen yang didapatinya dibangku kuliah ia menawarkan jasa untuk mengelola keuangan para copet ini dengan meminta imbalan 10% dari hasil copetan anak-anak ini.
Hasilnya, Muluk dipercaya untuk mengelola uang hasil ’jerih payah’ mereka. Namun ternyata Muluk punya rencana lain untuk anak-anak ini. Ia membuat program untuk mendidik agar para pencopet itu kelak ’insyaf’ dan tak mencopet lagi. Muluk meminta bantuan dari dua kawannya, yaitu Syamsul ( Asrul Dahlan), seorang sarjana pendidikan yang senasib dengannya (menganggur) yang tiap hari menghabiskan waktunya dengan bermain gaple di gardu Hansip, dan Pipit (Tika Bravani) yang juga sarjana/D3 yang kerjaan sehari-harinya hanya mengikuti kuis di TV. Bertiga mereka memberikan pendidikan agama, budi pekerti, dan kewarganegaraan kepada para pencopet muda tersebut. Tanpa kenal lelah ketiga sahabat ini mencoba mengubah pola pikir bocah-bocah itu agar tidak lagi mencopet.
Mendengar anaknya telah bekerja dibagian SDM (sebagaimana yang diakui Muluk kepada bapaknya) Pak Makbul senang bukan kepalang. Pak Makbul pun segera memberitahu H Sarbini, ayah Rahma, calon besannya. Demikian juga H Rahmat (Slamet Rahardjo), ayah Pipit, ikut senang melihat anaknya sudah dapat pekerjaan dan tidak lagi hanya mengharapkan menang kuis di TV.
Namun suatu hari, alangkah terkejutnya Pak Makbul, Haji Sarbini, dan Haji Rahmat, ketika mengetahui bahwa anak-anak mereka ternyata mendapat gaji dari hasil copet. Kekecewaan mereka tak terbendung, mereka menangis di Mushola mohon ampun kepada Allah atas kelakuan anak-anak mereka. Ditingah berbagai rintangan yang menghadang, sanggupkah ketiga serangkai itu mewujudkan cita-cita mereka yang mulia? Berhasilkah Muluk, Samsul, dan Pipit mendidik para pencopet itu?
Film ini menjadi sangat menarik bukan hanya karena bintang-bintang besar yang terlibat didalamnya, namun juga karena isi cerita yang sangat berbobot dan bersentuhan dengan realita yang ada. Ditengah fenomena ’jalan pintas cepat kaya’ yang begitu ’digandrungi’ dinegeri ini, film ini niscaya dapat memberikan pencerahan dan harapan. Selamat menonton...
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |