Rumor tersebut terdengar makin kencang gaungnya akhir-akhir ini. Awalnya saya sempat berpikir bahwa hal itu adalah sekedar kabar burung belaka atau mungkin bagian dari ’demam’ ramalan suku Inca ,yang mengatakan kehidupan dimuka bumi akan berakhir pada 2012, yang sempat menjadi trend topic masyarakat dunia pada beberapa waktu yang lalu. Namun lambat laun saya mulai diliputi kegelisahan dan rasa penasaran. Dengan mengkombinasikan antara berbagai fakta dan paparan yang dikemukakan para ahli serta fenomena alam yang kerap terjadi, saya pun semakin gelisah, apakah hal ini benar-benar akan terjadi? Apakah Jakarta benar-benar akan tenggelam?

Menurut DR Armi Susandi, MT, seorang ahli yang juga pengajar di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa mungkin saja Jakarta akan tenggelam karena mengingat kondisi jakarta yang berada lebih rendah bila dibandingkan dengan permukaan air laut. ”Tanpa aturan yang benar, wilayah Jakarta akan segera tenggelam”, katanya. Pernyataan itu semakin diperkuat oleh keterangan yang disampaikan oleh Tim dari Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan kajian subsidensi permukaan tanah di 23 titik di sekitar Jakarta. Mereka menyimpulkan bahwa penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 cm hingga lebih dari 12 cm selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007!
Karena fenomena alam?
Fenomena alam yang kian tak menentu sering dijadikan alasan berbagai pihak terkait untuk menjelaskan prihal banjir yang makin akrab dengan ibu kota negara ini. Atau dengan ringannya akan menyebut ”banjir kiriman dari Bogor”. Padahal jikalau kita mau sedikit lebih jujur, banjir yang kerap terjadi di Jakarta adalah lebih dikarenakan oleh kesemrawutan tata kota yang dimiliki Jakarta. Dengan mudahnya gedung- gedung besar dapat berdiri tanpa memperhatikan aspek-aspek yang terkait seperti dampak negatifnya pada kondisi alam.
Lihatlah hamparan hutan beton yang terus meluas mendominasi setiap sudut kota. Ruang-ruang hijau yang seharusnya menjadi benteng kesimbangan disulap menjadi pusat perbelanjaan atau perkantoran nan megah. Padahal alih fungsi kawasan tangkapan atau resapan air tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis akan berakibat fatal. Sebagai gambaran, ruang terbuka di Ibu Kota hanya sekitar 9,6 persen dari idealnya sekitar 30 persen.

Tengoklah pula kawasan pantai di Jakarta sebelah utara. Bila semula daerah ini dirimbuni oleh tanaman bakau yang berfungsi sebagai garda terdepan pertahanan dari terjangan ROB, maka pemandangan itu tak akan lagi anda jumpai. Dinding- dinding terjal yang dingin dan angkuh dari perumahan mewah telah menggantikannya. Tak heran lah kiranya bila warga diwilayah Jakarta Utara tak usah repot-repot menunggu guyuran hujan deras berkepanjangan untuk merasakan banjir, karena hanya cukup dengan menanti air laut pasang maka dengan segera sudut-sudut wilayah tersebut terendam air laut. Hmm..saya pun bergumam dalam hati. Apa jadinya bila pemanasan global terus berlanjut dan gunungan es di kutub mulai mencair? Bisa- bisa jakarta memang benar-benar akan tenggelam. Makin cemas saya membayangkan kondisi kota ini...
Karena bumi tak suka akan kekosongan
Dengan makin bertambahnya beban yang ditimpakan kepada punggung bumi maka tak heran rasanya kalau permukaan bumi dari hari ke hari terus mengalami penurunan atau anjlok. Bahkan hingga dibawah permukaan laut. Dari data yang dikemukakan oleh Dinas Pengembangan DKI Jakarta, pada periode tahun 1982 hingga 1997 terjadi amblesan tanah di kawasan pusat Jakarta yang mencapai 60 cm hingga 80 cm. Namun karena amblesan itu merata jadi tidak terasa! Sungguh mengerikan...
Bukan hanya masalah habisnya persediaan air tanah, tapi dengan semakin banyak gedung-gedung berdiri berarti semakin banyak pula air tanah yang tersedot dari perut bumi maka semakin banyak rongga yang ditinggalkan. Karena sifat bumi yang tak suka akan kekosongan maka ruang-ruang yang ditinggalkan oleh air tawar pun terisi oleh rembesan air laut. Maka jadilah air laut yang bersemayam dibawah kaki kita dan menunggu saat naik kepermukaan. Untuk diketahui, air laut membuat tanah menjadi lunak. Dan tanah yang lunak bukanlah tumpuan yang sempurna untuk bangunan-bangunan dengan beban berat seperti yang ada di Jakarta. Hasilnya, permukaan tanah pun akan terus mengalami penurunan, dan kota Jakarta akan semakin ambles karena tak kuat menahan beban diluar kemampuannya. Kasus amblesnya sebagian ruas Jalan R.E. Martadinata, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu, adalah salah satu indikasi yang patut dicermati.
Siapa menabur angin...siapa yang menuai badai?
Selama ini pemerintah terasa hanya mementingkan dan memfasilitasi kepentingan- kepentingan ekonomi jangka pendek yang hanya berbuah keuntungan sesaat dan melahirkan masalah dikemudian hari. Ijin membangun bangunan untuk para pengusaha begitu mudah dikeluarkan dan diterbitkan tanpa berhitung dan mempertimbangkan dampaknya dengan lebih bijak dan hati- hati.Terlalu provit oriented. Untungnya diambil segelintir orang, tapi susahnya dibagi rata kesetiap penduduk Jakarta. Hmmm....
Pada sebuah kesempatan, Guru Besar Oceanograf Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Safwan Hadi menjelaskan bahwa akibat ketidaktegasan pemerintah dalam membatasi pembangunan dan pengambilan air tanah ini di beberapa daerah di Ibukota, utamanya yang dekat dengan laut, benar-benar terancam tenggelam.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa banjir yang kini rutin menyambangi ibu kota bukan mutlak akibat fenomena alam yang tak kunjung pasti. Namun lebih dikarenakan faktor manusianya. Secara detail dari semua faktor banjir Jakarta alih fungsi adalah yang paling dominan.
Namun pasrah dan mengeluh sungguh bukanlah sebuah solusi untuk keluar dari permasalahan ini. Ketika ternyata ’tanggung jawab’ ini harus dipikul rata oleh semua warga Jakarta maka kita tak punya pilihan lain selain berusaha mulai memperbaikinya. Mulailah dengan mencintai dan berbuat untuk bumi tempat kita tinggal. Mulailah dari lingkungan sekitar tempat anda tinggal. Mulailah dari sekarang! Sebelum semuanya benar-benar terlambat dan Jakarta hanya tercatat pada lembaran sejarah bertulis ”..dahulu disini ’pernah’ berdiri sebuah kota megapolitan bernama Jakarta”...seperti mitologi Atlantis...(Sunny)
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |