Program Lingkungan PBB, UNEP, melaporkan ancaman dalam beberapa dekade kedepan terkait mencairnya gunung-gunung es yang sangat cepat. Perkiraan ini merupakan hasil kesimpulan para ilmuwan yang melakukan kegiatan penelitian terhadap 30 lapisan gunung es diseluruh dunia pada tahun 2006. Beberapa negara sangat rentan terhadap dampak mencairnya gunung-gunung es tersebut. Sungai-sungai di kawasan India memiliki sumber air dari puncak dunia, Himalaya, yang memiliki lapisan es cukup besar. Sementara di pantai barat Amerika Utara yang mendapatkan sumber air utama dari pegunungan Rocky dan Sierra Nevada diperkirakan akan merasakan dampak tersebut.
Hasil penelitian UNEP menyatakan, pada tahun 2006 lapisan es didunia telah berkurang 1,5 meter. Terbanyak dalam catatan UNEP terdapat di Breidalblikkbrea, Norwegia dengan besar lelehan 3 meter. Sementara itu gletser Echaurren Norte di Chile adalah satu-satunya yang bertambah tebal.

Sementara itu Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC) AS melaporkan musim panas tahun ini diperkirakan akan sangat ekstrem. Hal itu diperkirakan akan menyebabkan lapisan es di kutub utara kan habis. Jika dibiarkan akan berdampak pada kenaikkan muka air laut yang tidak dapat dicegah. Pada tahun 2007 tebal lapisan es di perairan Arktik mencapai rekor terendah. Karena itulah terusan utara-barat yang menghubungkan Greenland dan Alaska dapat dilalui kapal. Walau kembali menebal saat musim dingin namun secara keseluruhan sejak tahun 1978 luas di Antartika mengalami penyusutan. Penambahan terjadi hanya karena pembentukan lapisan es muda yang mudah mencair. Penyusutan lapisan es di kutub utara setiap tahunnya mencapai 44.000 kilometer persegi setiap tahunnya.
Gagal, dari padi sampai apel
Sementara itu meningkatnya panas bumi membuat suhu udara selama 35 tahun terakhir di NTB lebih cepat. Kenaikan suhu di Mataram antara tahun 1971 sampai 2006 rata-rata naik 0,5 derajat celcius. Kondisi menyebabkan kerusakan lingkungan dan terganggunya sistem pertanian. Kalau dulu terdapat istilah gagal panen kini sudah gagal tanam. Selain itu panas ini juga berdampak pada kesehatan masyarakat seperti meningkatnya wabah diare. Hal ini diakibatkan air sumur yang biasa di konsumsi telah tercemar air banjir.
Sementara itu di peningkatan suhu juga dirasakan di Kecamatan Poncokusumo, Malang, Jawa Timur. Namun pemanasan disini diakibatkan pemanasan lokal. Akibatnya perkebunan apel milik masyarakat setempat rusak. Disinyalir pemanasan ini akibat penebangan hutan konsensi seluas 3.200 Ha di lereng selatan Gunung Semeru. Penebangan ini dilakukan oleh mitra Perhutani. Masyarakat menduga Perhutani membiarkan ini terjadi karena sudah mendatangkan uang bagi BUMN ini. Penebangan ini diduga menyebabkan pemanasan lokal sekitar 24-26 derjat celcius. Padahal ini perkebunan apel di Poncokusumo merupakan yang tersisa setelah di Batu dan Pujon mengalami kerusakan ekosistem.
Pemanasan suhu bumi telah berdampak pada seluruh kehidupan. Tetapi sayangnya masih juga banyak yang abai dan mengutamakan kepentingan ekonomi. Penduduk bumi belum satu suara untuk menghentikan pemanasan
yang telah berdampak buruk. (lui)
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |