“Perempuan seksi adalah perempuan yang cerdas, berwawasan luas, percaya diri dan memberi manfaat bagi lingkungannya dan tentu musti menjaga kondisi fisik yang sehat dan terawat.”

Jawaban dari senyum yang tak terlupakan dari sosok Exotic Leader kita kali ini. Perempuan dengan karakter kepemimpinan yang keras. Ya, kami tengah kencan bincang-bincang dengan seorang Adita Irawati, mantan Group Head Communication dari sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Ada sebersit pertanyaan dalam benak kami, mengapa ia memutuskan meninggalkan posisi puncak yang diidam-idamkan oleh banyak orang dan memilih terjun ke dunia manajemen entertaiment ?
”Entertainment khususnya musik telah menjadi salah satu passion dan hobi saya sejak kecil”, tukasnya pasti. Dunia seni memang telah digeluti oleh perempuan cantik kelahiran 15 Februari 1971 ini sejak usia yang masih sangat belia. Sejak sekolah dasar ia kerap diundang mengisi acara di berbagai kesempatan, baik untuk menyanyi maupun menari tradisional. Tak heran kiranya jika kini dengan bermusik, menyanyi dan menari ia mengaku menemukan dunia yang bisa menyeimbangkan aktivitas kesehariannya khususnya saat masih menjadi pegawai kantoran.
Tapi kami pikir dari album fotonya, kami bisa nilai perempuan cantik ini juga hobi travelling ke daerah pelosok. ”Ya, kalau waktu luang cukup tersedia, senang rasanya bisa jalan-jalan melihat Indonesia dengan mata kepala sendiri. Dengan cara ini bisa membuat saya merasa lebih hidup. Bulan lalu saya terbang ke Papua dan menghabiskan seminggu disana menikmati betapa eloknya negeri kita.”
”Sebenarnya bukan hanya itu. Tetapi disini saya menemukan dunia baru yang menggabungkan tantangan dalam bidang manajemen dan komunikasi dengan dunia hiburan itu sendiri.” Ungkapnya.
Walau tak lagi disibukan oleh masalah kehumasan korporasi, namun tak berarti Dita, panggilan akrabnya, lepas sama sekali dengan dunia Public Relations yang lama ia geluti. Ditengah kesibukannya yang baru, ibu dua orang anak ini mulai mengelola perusahaan komunikasi (Communications Agency) yang menyediakan berbagai layanan kehumasan, publikasi, media relations, issue management, CSR dan sebagainya. Hal ini tak bisa dilepaskan dari pengalamannya selama 10 tahun diperusahaan telekomunikasi tersebut. ”Pengalaman mengelola kehumasan korporat membuat saya lebih percaya diri untuk menjalani bisnis agency dan konsultan di bawah kendali saya sendiri.” ujar Dita penuh percaya diri.
”Semua tantangan saya nikmati sebagai kesempatan untuk belajar hal-hal baru” ujarnya. Menurutnya konsep manajemen dan komunikasi pada dasarnya sama, yang membedakan adalah konteks dan bidang industrinya. Industri telekomunikasi sudah ia geluti selama 15 tahun, sedangkan industri hiburan relatif baru untuknya. ”Namun demikian, karena dunia ini adalah passion dan hobi, maka semua tantangan dan kendala saya hadapi dengan fun saja” sambungnya.
Bagi seorang Adita untuk menjadi seorang pemimpin yang baik ada dua poin penting. Pertama adalah merakyat dan kedua adalah keteladanan. Merakyat, artinya dekat dengan anggota tim dan staff dari berbagai lapisan. Dekat secara personal dengan tetap menjaga profesionalisme. Kedekatan ini membuat tim menjadi lebih terbuka dan berani berpendapat. ”Justru dengan keterbukaan ini kami bisa dan biasa bertukar pikiran, diskusi atau beradu argumen. Akhirnya menghasilkan ide-ide yang kreatif dan inovatif yang kita sepakati bersama”. Sementara keteladanan, adalah kemampuan menjadi role model bagi timnya.
“Prinsip “walk the talk” sudah menjadi prinsip saya sejak dulu.” Katanya menegaskan. Menurut Dita, seorang pemimpin harus membangun kepercayaan seluruh anggota tim dengan karya dan kinerja. “Tidak sekedar “omong doank” memberi masukan, saran, kritik tanpa kita sendiri melakukan dan memberi tauladan” ungkap perempuan lulus cum laude di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Jogjakarta ini. Tak heran rasanya bila ia dihormati dan disegani oleh setiap orang yang pernah bekerja dengannya.

”Menurut saya, perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan lelaki dalam aspek apapun. Walaupun ada kodrat yang membedakan keduanya, namun jika itu menyangkut hal-hal profesional maka tidak ada alasan untuk mempermasalahkan kodrat. Yang perlu dibenahi adalah adanya stigma di masyarakat bahwa perempuan itu lebih lemah, bahkan di beberapa suku tertentu perempuan adalah manusia golongan kedua,” serunya.
”Khusus bagi tokoh-tokoh perempuan di dunia politik musti bisa memerdekakan diri dengan membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan dan kapasitas yang tidak kalah dari politisi pria. Sebagai wakil rakyat, ketelatenan seorang perempuan di legislatif seharusnya menjadi kekuatan. ”Saya berharap mereka tidak terjebak oleh kepentingan-kepentingan sesaat partai, tapi lebih mengedepankan tanggung jawab dan kepentingan rakyat yang diwakilinya”.
Pengalaman menjadi wanita bekerja selama puluhan tahun telah menempanya untuk menjadi lebih bijaksana mengelola waktu. Walau diakui bahwa hal itu menjadi tak mudah setelah berkeluarga. Lantas apa yang membuatnya mampu mengatur waktu dengan baik? ”Kuncinya adalah quality time dan menentukan prioritas” sergahnya.
”Di saat-saat tertentu, saya harus berani menentukan prioritas, misal saat anak sakit padahal ada tenggat pekerjaan, maka saya harus berani mengambil keputusan mana yang harus saya dahulukan” lanjutnya. Sementara untuknya sendiri ia mengatakan tidak harus mengambil waktu khusus. ”Kadang saat bersama anak-anak pun saya tetap dapat menikmati me time..”
Hubungan ideal menurutnya adalah hubungan yang saling menghormati dan memberi ruang bagi tiap individu. Saling menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing, khususnya antara suami istri, termasuk kepada anak. ”Menghormati itu memberi kepercayaan satu sama lain dengan bertanggung jawab, baik untuk pasangan maupun anak-anak” jelas Dita. ”Memang melalui sebuah proses, tidak bisa tercipta begitu saja.”
Adita mengaku sangat anti poligami. ”Alasan saya mungkin sangat pribadi dengan menggunakan perspektif pribadi saya”. Namun demikian ia mengatakan tetap menghormati perempuan yang rela dipoligami dengan alasan apapun. Menurutnya hal ini adalah pilihan yang sangat personal.
”Ketika saya harus meninggalkan kemapanan sebagai karyawan perusahaan besar dengan posisi puncak. Perubahan yang harus saya hadapi sejak saat itu, perubahan yang tidak main-main dan
menuntut saya untuk cepat beradaptasi dengan perubahan. Apapun perubahannya. Karena perubahan hanyalah satu-satunya yang abadi.”
Waktu terasa bergulir dengan cepat bila ngobrol dengannya. Tak terasa kami harus mengakhir sesi obrolan ini. Tetap terngiang, senyumnya, tidak pernah lepas dari bibir tipisnya. Menunjukkan kemapanan pribadi dewasa, seorang leader yang pantas berkembang.
Sukses buatmu Dita!
Sunny & Andy
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |