Hidup itu mengalir laksana air. Tapi, bahkan air pun punya muara sebagai tujuan. Lalu dimana hidup manusia? Mengalir dan membiarkan diri dihanyutkan oleh arus kehidupan yang kian deras? Bila itu sebagai aktifitas, maka dia muncul sebagai aktifisme seumpama robot. Tanpa hati, kehilangan soul, dan senyap tanpa warna. Ketika sebuah kehidupan terarah maka ada jiwa disana. Orang menyebutnya sebagai visi yang dikreasi dari hasil olah pikir dan pengalaman serta pengamatan yang obyektif. Karena visi bukanlah mimpi.
Mata itu begitu bening dan tajam. Bicaranya mengalir deras tanpa kehilangan arah. Sekali dua tawa renyah mengumandang memenuhi ruangan yang tidak bisa dibilang besar. Kami seolah dua sahabat yang lama tak sua. Keramahannya menghempas sela bahwa kami dua orang yang baru pertama kali berjumpa. “Prinsip hidup saya memang flowing tapi tidak sekedar go with the flow, harus punya strategi dan rencana,” ujar Astrid Wiranto, Exotic Leader kita. Prinsip itu begitu erat digenggam ibu seorang anak ini. Tak dinyana, inilah yang membuatnya begitu bersinar.

Kini dia hadir sebagai product manager di PT Wyeth Indonesia dalam usia 35 tahun. Usia yang begitu muda. Karirnya memang mengkilap. Astrid, demikian dia biasa disapa, mengaku dahulu dirinya memiliki target yang begitu terencana, bahwa diusia sekian dia harus lulus kuliah, lalu harus mampu meraih pekerjaan yang bagus, selanjutnya harus punya gaji yang didambakan. “Untuk mencapai target itu saya punya strategi-strategi dari diri sendiri,” ujarnya. Apa sih strateginya, Mba? “Saya melihat sekeliling untuk melihat apakah kondisi saat ini cocok dengan kondisi saya sekarang?” katanya. Karena itu, lanjutnya, selain punya sisi ambis tapi juga punya sisi nrimo. Ah, kenapa dirimu begitu mengagumkan, Mba? Tak banyak orang yang begitu dewasa dengan berpikir strategic seperti itu.
Lulus dari Universitas Parahiyangan tahun 1992, Astrid Susanto bergabung dengan sebuah lembaga Public Relation dan komunikasi. Itu tak lama. Ketika negara ini diguncang dengan mangkirnya sejumlah bankir untuk bayar hutang. Lalu dibentuklah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dirinya segera bergabung. “Waktu saya masuk ketua BPPN saat itu Glenn Yusuf,” katanya. Selama lima bulan dirinya dipercaya sebagai PR “klinik bagi bank sakit” ini. Waktu yang banyak berarti karena dirinya didorong untuk banyak belajar tentang dunia PR. Ketika itu BPPN kerap menjadi headline di media-media nasional dan posisinya mengharuskan dia dengan dekat wartawan. “Saya pernah marah besar kepada wartawan salah satu majalah karena dia memuat nama saya padahal saya sudah wanti-wanti untuk tidak dimuat,” katanya.
Selain itu diapun harus extra hati-hati kepada “nyamuk pers”. “Wartawan itu kan pintar mancing komentar jadi saya harus hati-hati,” lanjutnya. Yah, namanya juga cari berita, Mba. Saat dia dipindahkan pada tanggung jawab
lain untuk menjadi investor relation, Astrid boleh bernafas lega. Betapa tidak dirinya langsung “putus hubungan” para pencari berita. Bidang yang baru ini melarangnya dekat dengan wartawan. “Pada bidang ini banyak rahasia karena ada transaksi, nilai jual, dan segala macam. Maka kalau hal ini sampai ke publik bisa gawat,” lanjutnya.
Detik demi detik berlalu. Menit pun berganti jam tapi suasana kian hangat. Sedikit demi sedikit nervous ini lenyap. Kehangatan dari setiap kata yang meluncur mampu menetralisir perasaan setiap lawan bicaranya. Panjang “cerita” di BPPN. Dirinya pun merasakan semua petinggi yang pada pucuk di badan ini dari mulai Glenn Yusuf, I Putu Ary Sutta, Cacuk Sudaryanto, Edwin Kawilarang sampai Syafruddin Tumenggung. Disinilah dia merasakan kentalnya perbedaan setiap model kepemimpinan. Apalagi hal itu terkait dengan politik. Ya, ketika itu BPPN menjadi salah satu institusi yang kental dengan tarik-menarik kepentingan politik.
BPPN, sebagai lembaga ad hoc yang didirikan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1998 untuk mengatasi krisis moneter melalui penyehatan perbankan, akhirnya tutup buku. Astrid lalu bergabung dengan PT Wyeth Indonesia. Pengalaman itu begitu berharga. Rasanya hal ini cocok dengan dirinya. Tanggung jawab yang diemban sangat berat. Sebagai salah satu ujung tombak perusahaan, Astrid dituntut jeli melihat pasar. Tak bosan rasanya diri ini meman-dang setiap senyum yang mengembang. Perpaduan yang nyaris sempurna dari setiap anggota wajah. Yakinlah saat itu Tuhan sedang tersenyum saat mencipta dirinya.
Sebagai produk manager dirinya dituntut untuk memahamai setiap produk. Penjelasan panjang lebar pun diberikan tentang siapa dan bagaimana potensi pasar, kompetitor, dan langkah jitu strategi yang harus diraih. Bak Yudhistira, sang panglima pasukan pandawalima pada perang Baratyudha, Astrid dengan jeli memaparkan strategi untuk meraih kemenangan. “Intinya kita harus menguasai pasar dan mengenal setiap kompetitor kita. Dari situ kita baru bisa membuat sejumlah langkah,” katanya yakin. “Modalnya kepercayaan diri,” katanya. Seantero nusantara pun dirambah untuk memberikan pelatihan kepada sales dilapangan, melihat kondisi pasar, atau sekedar memantau peredaran produk. “Yah ternyata sejak awal saya sudah pada bidang marketing untuk create strategi,” jelasnya. setiap bulan dirinya harus terbang menjelajahi pelosok Indonesia. Namun dukungan orang-orang terdekat membuatnya nyaman. “Suami, orang tua, mertua, kerabat mendukung saya,” ujar penggemar semua warna tapi tidak untuk pink ini.
Pemimpin itu juga mengatur diri sendiri
Kepemimpinan dimata Astrid adalah kemampuan untuk mengatur banyak hal. Dimatanya pemimpin itu tidak harus memiliki anak buah. “Memang akan lebih terlihat kalau memiliki anak buah sebagai sub-ordi-nate, tetapi bagi saya tidak selalu demikian,” katanya. Yang paling penting bagi Astrid seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab terhadap semua hal yang diembannya. “Jadi kepemimpinan itu lebih kepada skill seseorang untuk bisa mengatur dan memiliki tanggung jawab”, katanya. Walaupun saat ini dia tidak memiliki anak buah on direct tetapi dia pernah punya sepuluh anak buah saat di BPPN. Disana dia belajar untuk mampu memberi dorongan pada anak buah dan bisa duduk sama-sama untuk menyelesaikan masalah.
Tak terasa satu jam lebih “kencan” kami berlangsung. Suasana yang begitu hangat sangat terasa menyenangkan bersama perempuan nan cerdas ini. Karena itu tak salah kita menyebutnya sebagai sang exotic. Ah, Mba Astrid dibalik elok rupamu ada kekaguman yang begitu kuat, hadir dihati ini. (lui)
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |