Sebuah Hasrat
Puspita Zorawar
Jika melihat sosok exotic leader yang satu ini niscaya kaum adam akan tertegun sesaat untuk mengagumi kecantikan lahiriahnya. Dan ketakjuban itu akan berlipat ketika kita melihat kualitas dan kapabilitas yang ada pada diri konsultan pengembangan diri yang juga seorang dosen ini. Dra. Puspita Zorawar, M.Psi.T, begitulah nama lengkapnya, sangat tahu betul apa yang menjadi kelebihan dirinya dan bagaimana mengkombinasikan serta mengoptimalkan seluruh ’aset’ yang ia miliki menjadi sebuah masterpiece. Ya, dengan kepercayaan diri dan bahasa tubuh yang sempurna ditambah pengusaan materi akan bidang yang ia geluti kerap membuat audience terpana.
Mengobrol dengan Puspita seperti sedang menimba ilmu tentang bagaimana mengembangkan diri. Dengan gaya bahasa yang lembut dan lancar Puspita menceritakan lika-liku bidang yang digelutinya selama ini.
Berangkat dari Hasrat
Dari sekian banyak pengalaman yang ia miliki, apa gerangan yang membuatnya tertarik untuk terjun dalam bidang Personal Development & Organizational Development? Dengan nada pasti berbalut dengan keanggunan ia menjawab, ”Untuk personal development, Saya tidak tahu persis kapan waktunya mas, yang jelas hasrat saya sangat tinggi untuk membantu men-develop seseorang. Mungkin ada pengaruhnya juga dari nasehat almarhum ayah saya dan ibu saya yang sampai saat ini masih menjadi mentor saya – nasehat tersebut yang sampai saat ini selalu menjadi ‘driver’ saya, yang ditanamkan kepada saya sejak saya kecil, yaitu bahwa saya harus selalu berusaha yang terbaik untuk bisa membantu dan berguna untuk orang lain”.
Ia melanjutkan, ”By natural, saya selalu senang memfasilitasi orang lain untuk menemukan kualitas diri mereka yang akhirnya mereka bisa lebih bersemangat dan berhasil ‘menjadi lebih baik’. Dengan ’membangun’ orang lain, maka kita pun dituntut terus untuk selalu ’membangun diri’ menjadi lebih baik. Hal ini juga terjadi ketika saya masih bekerja sebagai profesional di perusahaan besar dan memiliki anak buah, rasanya selalu ingin anak buah saya, ataupun junior saya, selalu ingin saya fasilitasi, baik melalui sharing dengan mereka, melalui mentoring pekerjaan mereka, dan sebagainya, agar junior saya bisa terus mengembangkan potensi mereka. Ada reason khusus juga untuk hal ini sich, agar saya dapat mengerjakan hal-hal lain yang lebih tinggi lagi, sehingga pencapaian departemen saya bisa lebih baik lagi”.
Lantas adakah latar belakang pengalaman pribadi yang mempengaruhi ketertarikannya untuk menggeluti bidang ini? ”Sangat ada”, jelasnya. ”Pada saat saya bekerja di bidang telekomunikasi, bersyukur sekali saya sangat berkontribusi dalam team dengan beberapa foreign expert yang luar biasa memiliki kompetensi, baik secara hard skill maupun soft skill. Saya mendapatkan pembelajaran yang sangat banyak dari mereka”. Walau disatu sisi ia merasa bahagia untuk ilmu yang dapatkan dari para kolega asingnya, namun disisi lain ada yang membuat batinnya gelisah. Sebagai seseorang yang cinta Indonesia, ia merasa bahwa sebetulnya potensi para professional Indonesia tidak kalah ‘expert’nya dengan foreign expert, namun mengapa foreign expert yang lebih bisa memimpin?
”Saya rindu sekali dan merasa terpanggil agar sumber daya manusia Indonesia dapat lebih optimal lagi dalam mengelola sumber daya lain yang dimiliki” cetusnya. Ia pun menambahkan, ”Hal itu menginspirasi saya untuk tidak pernah lelah menjadi mentor dari anak buah saya maupun junior-junior saya. Bukankah seorang leader harus menciptakan leader-leader berikutnya ?”
Hmm... ketika kebanyakan orang dikota besar banyak yang terjebak pada pola hidup yang begitu egoistis dan ingin menang sendiri, Puspita Zorawar justru terpanggil untuk berbagi ilmu yang telah ia miliki.
Tak hanya itu, dalam perjalanan karirnya, ia beberapa kali mendapatkan ‘atasan’ yang menjadi mentornya. ”Saya adalah seseorang yang pembelajar.. dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan untuk hal ini”. Walaupun sudah dapat dikatakan expert dibidangnya, bagi seorang Puspita Zorawar tak ada kata cukup untuk belajar, tak heran kiranya bila kemampuannya terus terasah tajam.
Life Balance
Ditengah derasnya kesibukan, apakah yang dirasakan paling memberatkan dalam menjalankan semua aktifitasnya? Dengan ringan ia mengatakan ”Rasanya tidak ada.”
Menjalani aktifitas sebagai narasumber, dosen, konsultan dan senior trainer yang kerap diundang disana-sini dan ia mengatakan tak ada yang berat? Apa rahasianya? ”Karena saya tidak ingin one man show, saya percaya sekali jika setiap program yang akan kita laksanakan memiliki misi dan goodwill kita baik, maka ada saja ‘resources’ yang mendukung – kadang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.”
Sekali lagi kita dibuat terkesima oleh jawabannya. Ya mungkin benar adanya sebuah ungkapan lama bahwa ”keajaiban selalu mengiringi niat baik.”
Bagaimana cara membagi waktunya? “Saya pengikut ‘life balance’ lho..” tandasnya. Ketika banyak orang sering terjebak pada kesibukan mereka sehingga tidak dapat memisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, exotic leader yang satu ini justru mampu keluar dari ‘perangkap’ kesibukan ini. Menurutnya keseimbangan dalam hidup itu mutlak. Ia mengaku tetap meluangkan waktu untuk kehidupannya diluar pekerjaan. “Liburan bersama keluarga bisa masak memasak di rumah atau bisa ‘dining in’somewhere” ujar penyuka sayur-mayur ini.
Culture of Excellence
Dra. Puspita Zorawar, M.Psi.T meyakini untuk menjadi seorang profesional excellence adalah sebuah pembelajaran yang panjang.
“Menjadi excellence adalah sebuah culture, yaitu sebuah budaya yang harus kita internalisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Internalisasi adalah bahwa hal tersebut sudah menjadi satu dengan cara berpikir kita, cara kita bertindak, cara kita mengambil keputusan, cara kita me-manage segala resources yang ada..semua harus ditujukan untuk menjadi ‘excellence’.
Culture adalah ‘sebuah proses pembelajaran yang panjang, bukan sebuah proses yang instant. “Jadi bila menjadi seorang professional maka jadilah yang excellence, jadi seorang dosen yang excellence, jadi seorang ibu juga excellence, jadi apapun peran yang dipercayakan kepada kita, berusahalah terus menjadi excellence.. tentu saja perlu proses..because good is not enough, but should be great” jelasnya.
Tetapi khusus untuk perempuan, ia menandai satu hal. Perempuan dari sudut pandang Puspita Zorawar, mempunyai tugas dan peran yang luar biasa vital. Kaum perempuan menurutnya harus bisa menjadi role model yang bisa dicontoh attitude behavior nya, disamping harus dapat menjadi life partner bagi sang suami. Perempuan harus mampu menjadi tiang yang kokoh dalam sebuah keluarga. ”Saya percaya akan ‘take a lead by sample’ yaitu selalu memimpin dengan memberi contoh diri sendiri..” ujarnya.
”Sebagai Ibu harus mendorong anak-anak kita (baik anak kandung maupun anak-anak didik kita) harus menjadi “generasi yang lebih baik “ lagi..kita harus mempersiapkan mereka menjadi pemimpin-peminpin yang memilki ‘knowledge, skill, dan attitude’ yang dapat menjawab dan me-manage perubahan di masa kini dan masa yang akan datang.”
Hubungan ideal dalam sebuah keluarga?
”Saya bersyukur memiliki suami yang mendukung dan anak-anak yang cooperative.” Ujar ibu dua orang anak ini. Menurutnya komunitas family akan memfasilitasi semua anggota keluarga bertumbuh dan berkembang, untuk terus menerus menjadi lebih baik , yang akhirnya dapat melahirkan generasi yang lebih baik. ”Jika semua keluarga dapat menjadi keluarga sesuai peran yang seharusnya, maka bangsa ini akan menjadi lebih baik.” katanya lagi..
Perempuan seksi
Perempuan seksi adalah yang memiliki kapasitas diri yang dapat ‘menarik bagi orang lain, begitulah menurut wanita yang juga menjadi dosen di Universitas Multimedia Nusantara ini. ”Nah, untuk ‘menjadi menarik’ haruslah merasa percaya diri dan ‘comfort - merasa nyaman dengan segala peran yang diembannya.”
Untuk menjadi sosok yang ‘menarik’, seseorang harus mampu menyeimbangkan antara inner dan outer beauty, “Jadi yang harus selalu kita improve adalah ‘kapasitas diri-self management’ termasuk bagaimana kita merawat yang sudah kita miliki sebagai anugerah, misalnya kebijaksaan, kepandaian, kesehatan (kulit, rambut, jasmani dan sebagainya). Jangan sampai kita tidak pernah menyadari ‘anugerah kelebihan yang kita miliki’ karena kita hanya fokus melihat kelebihan orang lain.” katanya melengkapi.
Sesungguhnya hidup memberikan begitu banyak pelajaran bagi setiap orang, tak terkecuali bagi seorang Puspita Zorawar.
Satu hal yang paling ia yakini adalah the more you give, the more you get…
”Hanya saja kita harus memperhatikan agar kita menabur benih sebaiknya di tanah yang subur, agar benih tersebut menjadi bertumbuh dan berbuah optimal.” katanya menutup bincang-bincang hangat kami hari itu.