Wisata Sehat
Taman Monas
Untuk warga ibukota Jakarta, tidak mungkin bila belum pernah mengunjungi atau datang ke Tugu Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan Monas. Monumen nasional yang terletak di Jalan Medan Merdeka, jakarta Pusat, yang tepat berada di jantung Kota Jakarta ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Apalagi setiap akhir pekan, kawasan taman ini tidak pernah ada sepinya. Khususnya, di hari Minggu ratusan bahkan mungkin ribuan warga Jakarta dan pinggiran kota Jakarta datang menyempatkan berwisata di taman yang lapang dan rimbun oleh pepohonan di setiap sudutnya.
Pepohonan ini tidak begitu saja ditanam, karena setiap tanaman mewakili pohon asli Indonesia. Taman pohon ini sekaligus menjadi museum hidup kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Meski sebagian lahannya tertutup semen dengan alasan menjaga kebersihan dan keindahan taman, wisatawan masih dapat menikmati keteduhan berada di bawah pohon-pohon besar lengkap dengan tempat duduk yang di tata secara apik.
Monas mulai di bangun pada bulan agustus tahun 1959 di areal seluas 80 hektar, di arsiteksi oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir Rooseno. Monumen ini di resmikan pada tanggal 17 Agustus tahun 1961 oleh Presiden RI Ir Soekarno dan resmi di buka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.Tugu peringatan Nasional atau yang lebih di kenal dengan Monas ini, merupakan salah satu monumen yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat pada masa revolusi kemerdekaan melawan penjajah belanda. Monas di bangun untuk memberi inspirasi serta membangkitkan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Monumen ini memilki bentuk yang unik pada tugunya yakni sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer berbentuk lingga yoni (alu lumbung) setinggi 137, Tinggi pelataran cawan 17 meter dan ruang museum sejarah 8 meter. Luas pelataran berbentuk bujur sangkar berukuran 45 meter persegi. Angka-angka ukuran tersebut diambil dari angka keramat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (17-8-1945). Di puncak Monas terdapat cawan yang menopang nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton serta di lapisi emas 35 kg, menjadi lambang kobaran api semangat perjuangan bangsa Indonesia dimasa penjajahan.
Selain itu Alu dan lumbung (lingga yoni) sebagai simbol tugu monas, amat dekat dengan masyarakat Indonesia yang sebagian besar berlatar belakang petani (masyarakat agraris) yang sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat kita di beberapa daerah hingga saat ini. Perpaduan kedua lambang ini juga banyak ditemukan di candi-candi Hindu di seluruh Nusantara.
Taman refleksi wisata monas
Bila sudah selesai rekreasi sambil melihat-lihat sejarah berdirinya Monas, coba kita menengok taman refleksi yang berada di bagian selatan kawasan Monas (dekat taman Rusa). Yang dibangun oleh Sutiyoso sewaktu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Jejeran batu-batu tersebut tersusun rapi menurut ketajamannya. Mulai dari batu yang tumpul sampai batu-batu yang tajam. Kalau tidak terbiasa dijamin akan jalan tertatih-tatih atau menyerah karena kesakitan berjalan di atas batu-batu itu. Tidak hanya bisa berjalan, tapi bisa juga kita duduk bahkan berbaring di atasnya.
Satu hal yang menarik perhatian kala berkeliling di Monas saat ini adalah banyaknya orang menjalani terapi pengobatan di atas jalur jalan khusus untuk refleksi kaki. Tak hanya itu sebuah papan penunjuk tentang titik-titik saraf di balik kulit telapak kaki menjadi penanda areal khusus terapi refleksi kaki di monumen nasional ini, bahkan di sepanjang areal khusus ini, juga banyak tukang pijat refleksi yang duduk tersebar merata di area taman tersebut
Seperti Aminudin (28), warga Tambak, Jakarta Pusat, memilih terapi pijat refleksi untuk menyembuhkan penyakit asam uratnya. Ia mengaku telah dua kali pijat dan sekarang merasa lebih baik. Hanya dengan Rp 20.000 sekali terapi, ia merasa mendapatkan dua keuntungan. “Selain rasa enak setelah dipijat, berada di Monas ini juga melegakan dan segar lingkungannya masih bersih,” ujarnya sambil memegang lututnya.
Selain itu juga terdapat lapangan-lapangan untuk olahraga, aerobik, main layang-layang, ayunan anak-anak,
tempat bercengkrama keluarga, kadang juga digunakan untuk konser musik. Pedagang kaki lima dipusatkan di salah satu sudut jalan. Juga ada taman dengan rusa-rusa manis yang sengaja didatangkan langsung dari Istana Bogor oleh Bang Yos (sapa’an akrab Gubernur DKI Sutiyoso), Sayangnya, area atau kawasan ini sekarang kesannya seperti di kandang kebun binatang, bau dan tidak terurus.
Ada lagi taman dengan belasan rumah atau kandang burung merpati. Jika seseorang lewat di bawah mereka, puluhan burung ini bagai terkomando serentak meninggalkan kandang masing-masing. Suara kepak sayap merpati bergemuruh mengejutkan orang-orang yang melintasinya. Mereka terbang menghampiri, seakan hendak mengeroyok. Mengerumuni kaki, atau terbang berputar-putar di atas kepala, berharap butir-butir jagung ditebar. Sangat mengasyikkan bermain dengan hewan ini, sampai lupa kita akan flu burung dibuatnya
Tak hanya itu di area selatan pada ujung barat kawasan monumen nasional ini, ada pula bangunan yang diperuntukkan untuk muda-mudi berfitness. Ada landasan untuk melakukan sit-up dengan penjepit kaki. Ada tembok untuk angkat badan, dan sebagainya. Sangat representatif untuk muda-mudi yang ingin sehat tanpa mengeluarkan uang banyak sambil berolahraga di alam terbuka.
Di sebelah Barat ada air mancur “menari” dengan konsep air mancur tersebut akan mengikuti irama musik sesuai dengan iringan musik yang berkumandang, ditambah dengan permainan serta pancaran sinar laser membentuk berbagai macam adegan serta ragam yang merupakan tempat paforit bagi kaum muda mudi ketika berkunjung ke taman monumen nasional ini. Atraksi ini biasanya setiap hari Sabtu mulai pukul 19.00. (Gep)
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |