Pesawat Lion 737-400 sesaat menjejakan roda-rodanya dilandasan pacu lapangan terbang Fatmawati Soekarno, Bengkulu, sebuah lapangan terbang yang tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah provinsi. Perjalanan satu jam dari lapangan terbang Soekarno-Hatta, Jakarta, menjadi perjalanan yang tidak membosankan. Inilah Bengkulu, provinsi dengan sejuta sejarah dan nyaris “dilupakan” selama 32 tahun sampai tahun 1998.

Kota Bengkulu adalah Ibu Kota Provinsi Bengkulu dan terkenal sebagai tempat pengasingan Soekarno, Presiden pertama RI, oleh Belanda tahun 1939 - 1942. Disini pula perjumpaan Si Bung dengan Ibu Negara, Fatmawati terjadi. Perjumpaan yang kemudian menyimpan catatan sejarah Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Panas kota segera menyapa. Ketenangan dan kenyamanan segera terasa. Tak terlalu bising rasanya. Konon, di kota ini banyak tempat bersejarah selain tempat Bung Karno. Fort Marlborough misalnya yang menjadi benteng peninggalan Kerajaan Inggris yang terletak di bibir pantai. Juga terdapat makam Sentot Alisyahbana, seorang panglima perang dalam zaman perang Diponegoro.
Kedatangan bangsa Eropa di Bengkulu meninggalkan banyak peninggalan sejarah. Peninggalan yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari komponen kota pada masa lalu, seperti bangunan pertahanan, bangunan pemerintahan, bangunan religi dan bangunan hunian. Secara kronologis peninggalah sejarah kolonial di Bengkulu memiliki rentang waktu yang sangat panjang, yaitu sejak berkuasanya bangsa Inggris hingga pemerintahan Hindia-Belanda. Setelah lebih kurang 140 tahun Pemerintah Inggris berada di Bengkulu, mereka banyak meninggalkan “warisan” peninggalan bersejarah. Salah satu objek wisata budaya berbentuk peninggalan sejarah adalah Benteng Marlborough. Benteng Marlborough merupakan bangunan kokoh peninggalan Inggris yang dibangun pada tahun 1713 hingga 1719 pada masa kepemimpinan Gubernur Joseph Collet. Nama benteng ini meng-gunakan nama seorang bangsawan dan pahlawan Inggris, yaitu John Churchil, Duke of Marlborough I. Benteng ini tergolong terbesar di kawasan Asia.
Peninggalan sejarah ini memiliki daya tarik yang besar karena kelangkaannya. Benteng ini merupakan pusat pemerintahan kolonial Inggris yang menguasai Propinsi Bengkulu selama lebih kurang 140 tahun (1685-1825). Sehingga benteng ini pun masih memiliki bentuk yang sesuai dengan desain asli bangunan abad ke-17. Sungguh merupakan daya tarik yang jarang ditemukan di tempat lain. Situs kawasan Benteng Marlborough ini berada dalam satu kawasan dengan objek wisata alam pantai, yaitu Pantai Tapak Paderi. Sehingga memberikan perpaduan objek wisata alam dan budaya. Kelengkapan kawasan ini sebagai objek wisata menjadi potensi besar untuk dapat menjadi objek wisata unggulan bagi Kota Bengkulu
Selain peningalan sejarah Kota Bengkulu juga mempunya potensi wisata pantai yang potensial dengan keindahan alami, Pantai Panjang namanya. Tidak seperti lazimnya penggambaran pantai selama ini yang selalu dilukiskan banyak pohon kelapa, di tepi Pantai Panjang justru tumbuh berjajar pohon cemara. enduduk setempat menyebutnya Pohon Ru. Tingginya bisa mencapai sekitar 30 meter, berjajar dengan rapi. Di beberapa tempat masih ada pohon baru yang sengaja ditanam untuk menambah pohon yang ada. Jajaran ratusan pohon cemara di tepi pantai itu menambah keindahan kawasan sepanjang sekitar tujuh kilometer di Kota Bengkulu ini. Di sepanjang pantai juga ada jalan beraspal sepanjang tujuh kilometer, dan berada di bawah kerimbunan pohon-pohon cemara tersebut.
Pantai di tepian Samudera Hindia ini jika sore hari dipadati oleh para pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati saat-saat Matahari terbenam. Pengunjung bisa sekadar duduk-duduk di pasir sambil bermain dan menikmati pemandangan pantai.
Bengkulu tidak hanya mengandalkan wisata sejarah. Wisata lain yang sangat terkenal dan menjadi kebanggaan kota ini dan juga Indonesia adalah wisata alam. Disinilah terdapat Bunga Raflesia Arnoldi. Bunga langka berukuran raksasa yang pertama kali ditemukan tahun 1818 di Bengkulu oleh Sir Thomas Stamford Raffles
Sebagai kota yang mempunyai lintasan sejarah panjang kota Dr Joseph Arnoldi, sarjana berkebangsaan Inggris. Permata Bengkulu ini adalah satu dari sekian kekayaan di bumi Putri Gading Cempaka. Selain itu terdapat juga suatu tradisi lama yang selalu dipertahankan dan menjadi kegiatan seni budaya tetap di Kota Bengkulu, Festival Tabot yang diselenggarakan tanggal 10 Muharram.Tradisi ini dibawa oleh orang-orang India yang menjadi tentara Inggris pada tahun 1685. Salah satunya yang dikenal sebagai ulama adalah Syeh Burahnudin atau populer dengan nama Imam Sengolo. Tabot sendiri merupakan simbol kepahlawanan cucu dari Nabi Muhammad SAW yaitu Hasan dan Husein yang wafat dalam suatu peperangan di gurun Karbala, Irak.
Dengan sejarah yang panjang tampaknya Kota Bengkulu kedepan akan menjadi kota wisata masa depan yang apik dengan kekayaan potensi alam, budaya dan sejarah yang terpadu.
(ndy)
![]() | Hari ini | 117 |
![]() | Minggu ini | 541 |
![]() | Bulan ini | 7818 |
![]() | Total | 702795 |