Lamban itu artinya, ya sangat pelan. Tidak pelan tetapi sangat pelan. Disebut lamban bila dibandingkan dengan benda lain yang bergerak lebih pelan. Saya yakin Anda pernah merasakan hal yang disebut lamban ini. Bila Anda sedang setir mobil, Anda bisa memilih jalan lamban atau ngebut. Patokan bagi Anda untuk bisa disebut lamban atau ngebut adalah kecepatan mobil lain. Atau juga bisa pakai patokan speedometer dan batasan kecepatan yang diijinkan oleh rambu lalu lintas. Batasan kecepatan itu menjadi panduan bagi Anda, berapa cepat atau berapa pelan Anda boleh memacu kendaraan Anda.
Kanan, adalah kebalikan dari kiri. Kanan juga bisa diartikan sebagai posisi yang menguntungkan. Posisi strategis dari sebuah jabatan. Kalau posisi seseorang sebagai tangan kanan si A, maka posisi itu dianggap sangat penting. Kalau posisi Anda di kiri, itu artinya sekedar pelengkap. Tangan kiri lebih banyak digunakan untuk urusan-urusan lain yang dianggap kurang penting. Kecuali orang kidal.
Apa hubungan antara lamban dengan kanan? Inilah yang menarik. Jika saat ini Anda sedang setir mobil, pasti banyak was-wasnya, soalnya harus mampu bermanuver zig-zag kiri kanan kalau harus mendahului mobil didepan. Anda juga bakal sering banget bikin dosa, soalnya terpaksa ngumpat-umpatin orang lain meskipun dalam hati. Lha kenapa? Lha wong gak ada lagi sopir-sopir yang ikuti aturan jalan kok. Aturan-aturan itu cuma ada diatas kertas sewaktu ujian SIM.
Coba Anda bayangkan, saat ini Anda sedang setir di jalan tol atau di Pantura. Kalau Anda mau nyalib mobil di depan Anda, Anda musti nyalib dari kiri tho? Lha iya, soalnya sopir-sopir sekarang pada merasa lebih nyaman jalan pelan-pelan di kanan. Nyalib dari kiri ini membuat was-was dan deg-degan. Soalnya mobil-mobil kita tidak dirancang untuk nyalib dari kiri. Setirnya ada di kanan. Kalau Anda musti nyalib dari kiri, Anda musti meliukkan badan dan kepala kesamping kiri agar bisa melongok kedepan dan memastikan kondisi depan aman. Kayak si Valentino Rossi, si jagoan meliuk-liukkan tubuh biar motornya gak jatuh.
Apalagi bila didepan Anda bus atau truk besar, mereka paling jagoan kalau bikin sopir-sopir lain rajin meliuk-liuk supaya bisa salib-menyalib dari kiri. Rambu-rambu gunakan jalur kiri sudah tidak ada artinya lagi. Antrian sopir lain yang mau nyalib dia, yang membuat lalu lintas macet dibelakang bukan urusannya. Kalau dulu, yang paling hobi jalan lamban di kanan itu sopir-sopir bus dan truk besar-besar, sekarang hobi ini sudah menjalar ke sopir-sopir mobil kecil, semacam minibus atau sedan-sedan. Peraturan jalan di sebelah kiri, telah menguap entah dimana. Mirip seperti aturan bagi sepeda motor untuk menyalakan lampu siang hari, yang sekarang udah tidak ada lagi gregetnya.
Tampaknya memang enak jalan pelan-pelan di kanan. Tidak perlu pusing dengan urusan orang lain yang mustinya bisa jalan lebih cepat. Kalau mau lebih cepat...ya silahkan salib dari kiri. Kalau mau ikutan pelan-pelan ya silahkan dibelakang. Tampaknya sudah menjadi perilaku atau budaya baru.
Perilaku ini menunjukkan mentalitasnya. Bukan hanya terjadi di jalan raya, mentalitas biar lamban asal di kanan ini juga terjadi sangat kuat di dunia birokrasi kita. Lamban karena sudah berumur, tetapi tetap nyaman dengan posisi di kanan. Sebagian birokrat kita di jajaran atas, bagaikan truk-truk dan bus-bus besar yang sudah berumur dan tidak bisa melaju cepat. Tetapi tetap dengan nyaman berjalan lamban dikanan yang mengakibatkan proses-proses reformasi pola pikir menjadi terhambat sangat serius. Jajaran ini sudah susah mengakomodir ide-ide dan inovasi baru yang dianggap “membahayakan”. Tetapi sejauh itu aman ya silahkan asalkan posisi tetap di kanan, tetap menikmati posisi strategis yang hangat dekat dengan lingkaran kekuasaan.
Memang, semakin berumur, semakin konvensional cara berpikir, bertindak dan bereaksi terhadap perubahan. Semakin mapan, semakin tumbuh kekhawatiran karena sensitif dengan gerakan yang mengarah ke perubahan. Fenomena ini terlihat jelas di generasi birokrat senior kita. Susah melihat laju kemajuan jaman dan menjadi sangat susah untuk tahu diri bahwa ada junior-juniornya yang lebih mumpuni dari dirinya. Susah untuk tahu diri bahwa dirinya sudah tidak produktif lagi, sekaligus percaya dirinya malahan semakin meningkat.
Mentalitas ini menjadi penghambat serius bagi perkembangan kinerja. Generasi birokrat tua yang terus menerus nyaman di kanan, sadar atau tidak sadar telah membuat upaya-upaya reformasi pola pikir menjadi macet. Ide-ide dan inovasi-inovasi baru bakalan mandeg dan kemajuan menjadi utopia. Upaya perubahan perbaikan menjadi hambatan tanpa upaya perbaikan.
Meskipun pengalaman memang dibutuhkan... tapi haruskah kita memelihara mentalitas biar lamban asal di kanan...? Salam leader..!
DanG
Direktur LeadershipPark
![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Minggu ini | 535 |
![]() | Bulan ini | 7812 |
![]() | Total | 702789 |