Coba refleksikan sebentar. Bagaimana Anda akan memutuskan si A atau si B yang Anda pilih? Jawabannya adalah, karena Anda percaya! Anda pilih si A atau si B karena Anda percaya ia bisa bla-bla-bla. Benarkah begitu? Tentu saja Anda tidak salah. Kepercayaan Anda itu, memperkuat sebuah anekdot yang berbunyi: Anda hanya bisa bohong pada orang yang mempercayai Anda. Menarik bukan? Coba bayangkan untuk diri Anda sendiri, bagaimana Anda bisa membohongi orang yang tidak percaya Anda?
Artinya, jangan salahkan diri Anda, jika suatu saat nanti, mereka yang Anda pilih itulah yang akan bisa membohongi Anda! Tetapi inilah dunia kepemimpinan politik. Kejujuran dan kebohongan hanyalah dibatasi oleh selaput super tipis yang disebut kepentingan. Politik bisa jujur atau bohong bila kepentingan menghendaki demikian.
Dalam dunia politik, jujur dalam salah satu hal, bukan berarti akan jujur dalam semua hal. Begitu pula kebohongan. Kepemimpinan politik adalah peran yang tergantung pada skenario besar: kepentingan kelompok yang mengatasnamakan masyarakat dan bangsa. Sementara, kejujuran dan kebohongan adalah bagian penting dari berbagai kepentingan.
Dalam artikel kepemimpinan yang sangat menarik, In Trust Rules: The Most Important Secret, Dr.Duane C.Tway menyajikan tiga hal yang bisa mewujudkan kepercayaan. Pertama terjadi karena adanya kapasitas untuk bisa dipercaya. Kedua, adanya persepsi kompetensi dan ketiga, adanya persepsi dari niat.
Memiliki kapasitas untuk dipercaya artinya citra diri si calon pemimpin dalam seluruh kehidupan pribadinya. Para pemilih akan mulai menguak, mencari tahu, karena penasaran tentang hal apapun mengenai si calon presiden dan calon wakil presiden. Para pemilih akan sensitif dengan kampanye putih dan kampanye hitam. Tetapi para pemilih akan tetap menggunakan ‘kepercayaan’ dalam dirinya sendiri atas pilihan yang mereka percayai.
Persepsi kompetensi terhadap diri si calon presiden dan wakilnya terbentuk karena latar belakang mereka. Kinerja sebelumnya atau predikat di masa lalu jelas sebuah masalah besar. Namun, persepsi kompetensi ini memang mudah dilupakan, tetapi juga sekaligus sangat mudah untuk dibangkitkan untuk diingatkan kembali.
Hal terakhir yang membentuk kepercayaan terhadap si calon pemimpin adalah persepsi para pemilih akan niat. Para pemilih bisa dengan mudah memiliki kepercayaan terhadap calon hanya karena mengetahui ‘apa niat’ mereka mencalonkan diri. Mengetahui niat si calon menjadi sangat penting bagi pemilih emosional. Mereka tidak akan suka mengkerutkan kening untuk mencerna pesan-pesan komunikasi yang sarat dengan deskripsi prestasi. Mereka lebih mudah membaca dengan perasaan soal ketulusan si calon.
Ditangan sekelompok ahli komunikasi massa, upaya untuk meruntuhkan atau memperkuat persepsi publik dalam hal percaya terhadap si calon pemimpin bisa dengan mudah dilakukan dengan pendekatan tiga hal tersebut. Tips komunikasi massa yang dilakukan untuk membangun persepsi publik dengan indera mendengar, melihat dan merasakan niat calon pemimpin. Tanpa perlu harus bertatap muka, daripada upaya yang terlalu besar untuk menghadirkan si calon pemimpin menemui orang-per orang pemilihnya.
Maka, kunci sukses seorang pemimpin atau calon pemimpin adalah kepercayaan. Kepercayaan yang tumbuh dari sebagian besar orang yang bahkan belum pernah berinteraksi dengannya. Mereka, pemimpin dan calon pemimpin yang bisa menumbuhkan kepercayaanlah yang bakal memenangkan persaingan merebut kepemimpinan.
Pilihan orang-orang terhadap calon pemimpinnya adalah aktualisasi harapan mereka. Artinya, orang-orang memiliki harapan terhadap diri si calon pemimpin. Harapan muncul dari adanya kapasitas untuk bisa dipercaya, adanya persepsi kompetensi dan adanya persepsi dari niat si calon pemimpin adalah .
Maka, pertanyaannya sekarang, bagaimana para calon pemimpin masa depan membangun kapasitas dan persepsi di benak jutaan orang-orang pemilih itu agar mau mempercayai si calon pemimpin? Dengan kata lain bagaimana Anda dan jutaan calon pemilih bisa percaya pada calon pemimpinnya?
Salam Leader
Danang Girindrawardana - Direktur LeadershipPark Institute