Kebahagiaan adalah ‘mahkota kehidupan’ yang sesungguhnya. BUKAN UANG!
Globalisasi telah menyebabkan dunia menyempit, hubungan antar negara semakin terbuka, dan saling ketergantungan dan pengaruh-mempengaruhi makin tinggi dan kompleks. Didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, globalisasi telah membawa pengaruh positif sekaligus negatif bagi perkembangan peradaban modern. Salah satu pengaruh negatif yang dilecut oleh globalisasi adalah menyebarluasnya nilai-nilai yang merusak peradaban itu sendiri seperti materialisme, konsumerisme, hedonism, fundamentalisme, radikalisme, dan seterusnya.
Di tengah arus globalisasi yang tak terbendung itu, UANG tampil sebagai simbol sekaligus pilar hegemoni globalisasi. Seperti halnya globalisasi, UANG pun telah menghadirkan sisi-sisi positif dan negatif bagi manusia modern. UANG, secara langsung atau tidak langsung, menjadi ‘pemicu’ timbulnya berbagai masalah kejahatan kemanusiaan seperti pembunuhan, perang, perdagangan manusia, narkoba,perampokan, perompakan, illegal logging, pencucian uang, korupsi, kolusi, dan seterusnya.
Buku STOP MENCARI UANG sama sekali tidak menggiring orang untuk berhenti mencari uang. Ambisi mengumpulkan kekayaab juga sah. Sebab, uang memiliki nilai-nilai intrinsik maupun ekstrinsik yang bermanfaat besar bagi manusia modern.
Persoalan substansial yang mau diangkat dalam buku ini ialah bagaimana cara mendapatkan uang, bagaimana memprogram uang yang didapat dengan susah payah, dan untuk apa uang dimanfaatkan. Dalil yang dipakai adalah ‘biarkan uang mencari Anda’. Maksudnya, dengan mengambangkan talenta, kerja keras, kerja cerdas, kerja professional, uang akan datang dengan sendirinya. Tidak perlu dicari ke sana ke mari, apalagi dengan ‘jalan pintas’ seperti korupsi, kolusi, nepotisme, mafia yang melbrak nilai-nilai moral (etika) seperti keadilaan, kesetaraan, hak asasi manusia, dan kesejahteraan.
Dengan demikian, uang bukan segalnya dalam kehidupan manusia. Kerja, nilai kerja, dan ganjaran adalah nilai-nilai dasar yang melekat pada setiap orang. Manusia dilahirkan untuk bekerja, mengembangkan talenta, mencari uang, dan silahkan menumpuk kekayaan. Namun, kerja juga berdimensi sosiologis dan filosofis yang bermuara pada kebahagiaan diri dan sesama. Kata filusuf Aristoteles, tujuan tertinggi manusia adalah kebahagiaan. Dan, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang. Kebahagiaan manusia tidak berhenti ketika manusia bisa mengumpulkan banyak uang. Mendewakan uang berarti manusia telah menafikan kemanusiaannya. Uang bukan segalanya sehingga harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
Buku setebal 440 halaman ini merupakan buah karya ke tiga dari Bernhard Limbong yang juga seorang tentara aktif berpangkat Brigjend TNI-AD. Rupanya, kesibukannya sebagai ‘prajurit’ tak menghalanginya untuk menyalurkan hobi menulisnya sekaligus memberi sumbangsih pemikiran untuk negaranya tercinta. Menurutnya, maraknya praktek korupsi yang kian hari kian tumbuh subur dan meresahkan di negeri ini terjadi lantaran semua orang berambisi untuk mendapatkan uang dan menempatkannya sebagai prioritas hidup. Bahkan untuk itu manusia ‘rela’ menginjak-injak moralitas dan nilai kemanusiaan mereka sendiri.
![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Minggu ini | 535 |
![]() | Bulan ini | 7812 |
![]() | Total | 702789 |