Bagaimana Kepemimpinan Gianyar membangun kesejahteraan dengan budaya dalam koridor tritekerana (selaras dengan alam, lingkungan dan dengan manusia)
Jika bicara tentang keluhuran, keelokan, keistimewaan dan keunikan budaya Bali, berarti sebenarnya kita tengah bicara tentang Kabupaten Gianyar. Demikian anggapan kebanyakan orang. Anggapan ini tidaklah berlebihan karena Gianyar dikenal sebagai gudangnya para seniman dan perupa handal yang tidak hanya tingkat nasional tapi juga tingkat dunia. Maka tidak mengherankan Gianyar dinobatkan sebagai roh-nya Bali oleh berbagai kalangan.
Gianyar sebuah daerah yang mengusung motto ’Dharma Raksata Raksita’, yang berarti “Barang siapa yang berbuat Dharma, maka ia akan dilindungi oleh Dharma itu sendiri”.
Gianyar tak hanya dikaruniai seniman-seniman handal tapi juga alam yang indah dan bangunan-bangunan tua yang sarat akan nilai sejarah. Sebut saja tempat wisata Goa Gajah yang termasuk peninggalan purbakala, atau Istana Presiden Tampak Siring yang dibangun pada tahun 1957 atas prakarsa Bung Karno, presiden pertama Indonesia. Di Gianyar banyak berdiri bangunan-bangunan yang tergolong warisan budaya, yang begitu kental nilai historis dan budayanya.
Tetapi, keistimewaan sesungguhnya terletak pada keteguhan masyarakat Gianyar dalam menjaga keutuhan "kekayaan" yang mereka miliki, yaitu nilai tradisi, budaya, kesenian dan alam yang kaya raya nan indah ini.
Namun kondisi dilematis lahir, ketika budaya dan alam yang begitu kaya ternyata tidak mampu memberikan kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat Gianyar itu sendiri. Keadaan ini lambat laun membuat nilai-nilai budaya itu berada pada posisi yang terancam dan akan menjadi sulit dipertahankan. Sebenarnya ancaman ini bukan hanya bagi Gianyar tapi juga masyarakat Bali yang bakal terancam kehilangan identitas budaya dan tradisinya. Tentunya bukan akhir seperti ini yang didambakan masyarakat. Kabupaten Gianyar benar-benar dihadapkan pada sebuah situasi yang pelik.
"Kesulitan saya adalah, karena Gianyar adalah nilai budaya luhur masyarakat Bali, sehingga daya tarik Gianyar adalah budaya, namun bila budaya itu tidak memberikan kesejahteraan secara ekonomi kepada masyarakat, budaya luhur itu akan sulit dipertahankan dan hidup dalam kesatuan dengan masyarakat", ujar Bupati yang akrab disapa Cok Ace ini kepada tim LeadershipPark ketika kami menyambangi di kantornya beberapa waktu yang lalu. Berangkat dari keresahan ini, Cok Ace memimpin pemerintah Kabupaten Gianyar berupaya mencari formulasi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini.
"Gianyar dengan tanah yang begitu subur, seharusnya rakyatnya sejahtera." terang Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. "Namun mengapa hal ini tak dapat terwujud? Disini saya berhipotesa apakah para pendahulu kita salah mengelola kekayaan alam yang ada di bumi sukowati ini?", lanjut suami dari Tjokorda Istri Putri Hariyani R ini.
Tanpa membuang waktu Cok Ace berpikir keras untuk menemukan cara mengoptimalkan aset budaya masyarakat Gianyar yang dikenal sangat kreatif dan inovatif dalam olah seni dan olah tangan yang menghasilkan kerajinan yang mereka miliki agar dapat membuahkan hasil yang lebih maksimal.
Cok Ace tidak mungkin berpaling dari potensi masyarakat dan struktur geografis Gianyar sehingga ia fokus pada pengembangan industri pariwisata demi memompa perekonomian masyarakat. Potensi daya tarik Gianyar dalam bidang kerajinan dan kesenian sudah tepat ditangani oleh kepemimpinan yang memahami betul tentang karakteristik daerah dan keunggulan wilayah tetangganya sebagai faktor pendukung. Inilah latar belakang inspirasi Bupati untuk menghadirkan kesejahteraan bagi warganya.
Cok Ace berpikir keras bagaimana agar Gianyar tidak kalah dibandingkan dengan Denpasar, Badung dan Tabanan. Dengan segenap kekuatan kepemimpinannya Cok Ace mengarahkan kekuatan pemerintah daerah untuk serius menata seluruh potensi kawasan kabupaten agar benar-benar mampu menarik turis. Targetnya hanya satu: bagaimana caranya agar arus turis mancanegara yang selama ini hanya berputar-putar disekitar pantai mau singgah di Gianyar.
Cok Ace dengan kepemimpinannya yang tegas berani mengambil resiko yaitu melakukan penataan kawasan. Ia menyusun strategi penataan kawasan itu dengan tiga pendekatan utama yaitu, pengelompokan industri (klustering industri) berdasarkan kompetensi inti daerah melalui strategi OVOP (one village one product).
Konsep OVOP (One Village One Product)
Pendekatan OVOP adalah strategi jitu yang diaplikasikan oleh Pemkab Gianyar yang bertujuan untuk menggali dan mempromosikan produk inovatif dan kreatif berbasis sumber daya lokal masyarakat Gianyar yang bersifat unik, khas daerah, bernilai tambah tinggi, ramah lingkungan, serta memiliki citra dan daya saing internasional. Sasaran yang ditetapkannya adalah meningkatnya jumlah produk industri kecil dan menengah (IKM) yang memenuhi standar pasar global dunia.
Semangat pengembangan IKM di Kabupaten Gianyar dengan pendekatan OVOP juga dimaksudkan agar kegiatan pembinaan dapat dilaksanakan secara lebih terfokus pada wilayah tertentu. Sehingga hasil yang dicapai dari pembinaan tersebut terukur dan akuntabilitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
Konsep OVOP yang diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar pada dasarnya merupakan wujud dari pelaksanaan program pengembangan kompetensi inti industri daerah. Yakni sebagai suatu pendekatan pengembangan potensi daerah (regional development) di satu wilayah dalam mendorong pengembangan suatu produk lokal agar mampu bersaing di kelas global.
Berkat pembinaan yang dilakukan ala OVOP tersebut saat ini Gianyar memiliki beberapa sentra IKM yang mapan dan kuat baik dari segi permodalan, pasar maupun promosi. Cok Ace menyusun klustering berdasarkan kompetensi inti dan ciri khas daerah sebagai berikut:
Pendekatan OVOP ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan strategi repositioning (rebranding) atau places marketing (marketing wilayah) namun dengan sekaligus memberikan penguatan langsung dan secara terstruktur terhadap kemampuan masyarakat yang sesuai dengan kondisi geografis dan kecakapan hidup masyarakatnya.
Dengan strategi OVOP ini, ketujuh kecamatan di Gianyar itu kemudian tumbuh berkembang dengan memiliki ciri khas masing-masing. Hal inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Maka, sekarang tidak heran beredar pemeo bahwa jika belum ke Gianyar, maka Anda belum ke Bali.
Peningkatan kunjungan turis lokal dan internasional ke Gianyar sudah tentu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Masyarakat Gianyar semakin berdaya dan kuat secara ekonomi. Tentu saja pada proses pembangunan ini masyarakat menjadi semakin percaya dengan kepemimpinan Bupati dan seluruh perangkat pemerintah daerah, sehingga mereka mendukung penuh upaya pembangunan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Strategi kepemimpinan Cok Ace tentu tidak cukup dengan hanya menggaungkan propaganda OVOP, tetapi ia juga mengerahkan seluruh perangkat aparaturnya untuk membangun "kesadaran" masyarakat Gianyar. Bupati tidak segan-segan turun ke desa hanya untuk sekedar memberi contoh pada masyarakatnya mengenai bagaimana mengenali potensi daerah, meningkatkan ketekunan untuk menghasilkan karya yang berkualitas sehingga menghasilkan produk-produk yang bernilai dan berdaya saing tinggi. Ia selalu berupaya meningkatkan kepercayaan diri masyarakat Gianyar, bahwa produk lokal yang dikerjakan dengan kualitas dan cita rasa tinggi akan menjadi produk layak internasional. Hasilnya bagaimana? Silahkan para pembaca berkunjung ke Gianyar, Anda akan menemukan sendiri bagaimana kualitas kehidupan masyarakat Gianyar meningkat drastis dalam lima tahun berlakangan ini. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Cok Ace adalah juga menata strategi untuk menjaga mata rantai pemasaran dengan cara meningkatkan kapasitas sumber daya manusia baik itu unsur masyarakat, aparatur pemerintah, pelaku usaha. Bahkan para siswa sekolah menengahpun diupayakan untuk terjun langsung untuk praktek menjadi bagian dari industri pariwisata, pertanian dan perkebunan.

"Konsepnya adalah dengan tidak memaksakan suatu area konsentrasi pariwisata disatu tempat, namun menyokong habitat-habitat yang sudah ada agar saling sinergis dan mendukung satu dengan yang lain agar menarik wisatawan untuk datang langsung ketempatnya." Cok Ace menjelaskan. Kini citra Gianyar sebagai etalase seni budaya dan kerajinan semakin mendunia. Gianyar juga dikenal sebagai daerah yang ramah investasi karena pembagian kluster yang memudahkan kalangan investor dalam menyusun strategi investasinya dan didukung dengan pelayanan kemudahan perijian investasi oleh aparaturnya.
LKM sebagai pondasi
Salah satu kekuatan Gianyar adalah mantapnya kuda-kuda perekonomian yang justru di topang oleh industri menegah kecil yang menjadikan masyarakat sebagai aktor utamanya. Pemerintah kabupaten Gianyar memberikan perhatian ekstra terhadap peningkatan kemampuan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Dengan cara optimalisasi LKM terbukti ampuh untuk mendukung program Bupati dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena segala bentuk bantuan pemerintah bisa tepat sasaran yakni rakyat kecil yang membutuhkan. Masyarakat kelas ini yang benar-benar menjadi subjek dari pembangunan yang tengah berlangsung, bukan sekedar pelengkap.
Pilihan strategi Cok Ace adalah mengedepankan konsep pariwisata budaya yang berskala kecil dan berbasis kemasyarakatan sehingga menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi mereka. Hal itu berangkat dari konsep pemikiran bahwa budaya adalah ciri hakiki masyarakat maka bila sektor ini digarap sungguh- sungguh niscaya sama dengan menggerakan roda perekonomian ditingkat akar rumput.
"Masyarakat harus ikut merasakan dan menikmati dampak positif pariwisata secara baik secara langsung maupun tak langsung" ucap sang bupati.
Komitmen Bupati kepada rakyat kecil memang tak main- main, segala kebijakan yang dapat membantu kelompok masyarakat yang sering terpinggirkan ini kerap ia gelontorkan tanpa hitung-hitung. Pada Desember tahun lalu pemerintah Kabupaten Gianyar memberikan bantuan untuk mensertifikatkan 200 tanah untuk peningkatan akses permodalan bagi UKM se-Kabupaten Gianyar. Program ini merupakan satu bukti nyata komitmen kepemimpinan pemerintah daerah mengembangkan usaha mikro, menengah dan kecil, melalui kemudahan mendapatkan akses pengembangan usaha.
Dengan sertifikasi tanah diharapkan dapat mempermudah pengucuran kredit oleh lembaga keuangan formal sehingga memperkuat permodalan usaha dan bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat Gianyar.
Sementara untuk masyarakat pelaku usaha yang tidak memiliki agunan, pemkab Gianyar telah menyikapi di dengan program kredit tanpa agunan yang telah dicanangkan sejak tahun 2008.
Melalui pembangunan tata kelola LKM yang mencakup organisasi, prosedur rekrutmen, mekanisme simpan pinjam, dan sistem renumerasi, Kabupaten Gianyar sukses mengakselerasi peningkatan PDRB daerah dan mampu mendukung pembangunan pedesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung, menciptakan kesempatan kerja, dan permodalan. Saat ini kontribusi peran penting industri kecil pada pertumbuhan perekonomian Gianyar tampak menguat dalam berbagai sektor industri produk misalnya tekstil, kulit, fashion, produk kayu dan produk-produk sub-sektor kayu lainnya yang merupakan industri dominan di Kabupaten tersebut. Sebuah prestasi yang membanggakan atas keberhasilan Gianyar sebagai potret ideal keberhasilan LKM
Sebuah prestasi yang layak diberikan sanjungan dan pujian. Selamat, Cok Ace...Anda layak dapat bintang penghargaan dari masyarakat Gianyar, Bali dan Indonesia.
Akhir-akhir ini nama bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau yang akrab disapa Cok Ace ini makin sering diperbicangkan diperbagai kalangan pemerhati otonomi daerah. Gianyar yang dulu dipandang sebelah mata, sekarang tidak lagi. Cok Ace dituding sebagai ‘aktor intelektual’ dibalik kebangkitan daerah yang menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan di Bali itu.
Dalam tiga tahun ini Kabupaten Gianyar kerap mengemuka lantaran berbagai macam prestasi tingkat nasional yang berhasil diraihnya. Beberapa diantaranya adalah penghargaan Adipura untuk katagori kota kecil, Penghargaan Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah (PKPD),Penghargaan SLHD (Status Lingkungan Hidup Daerah), IGA (Innovative Government Award) dari Menteri Dalam Negeri, penghargaan Leadership Milleneum Development Goals (MDGs) dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Anugerah Ristek (Riset dan Teknologi) Tahun 2010 kategori Kreatifitas Iptek.
Semua penghargaan bergengsi berskala nasional ini bisa diraih setelah melalui mekanisme ketat dalam hal seleksi dan penilaian yang melibatkan berbagai sektor keahlian. Penghargaan- penghargaan ini mengarah pada kepemimpinan Cok Ace. Ia dipandang sukses menjadikan Gianyar sebagai daerah yang disegani dan dikagumi.
Cok Ace adalah gambaran seorang pemimpin yang peka dan kenal betul akan seluk beluk potensi rakyatnya. Mulai dari karakter masyarakatnya, kondisi geografis wilayahnya, potensi kekayaan daerah. Bahkan ia kenal betul jauh-jauh hari sebelum ia dipilih memimpin Gianyar. Tak heran ketika ia menjadi orang nomor satu di Gianyar, sederet program yang sudah ada dibenaknya segera ia manifestasikan. Hasilnya, baru setengah periode jabatannya ia telah berhasil ’merubah’ Gianyar menjadi lebih maju, lebih sejahtera dan kian masyur.
Ayah dua orang anak ini dikenal sebagai seorang pemimpin yang ’berani’ dan tegas. Cok Ace tak surut langkah untuk debat ataupun dialog dengan siapa saja asalkan demi tujuan mensejahterakan masyarakat Gianyar. Keberaniannya itu sering membuatnya ‘dipinggirkan’ oleh pihak-pihak yang terusik oleh dedikasinya untuk rakyat. Keberanian itu tak pernah berubah baik sejak ia menjabat sebagai penasihat bupati sampai saat ini menjadi bupati. Masyarakat Gianyar beruntung mendapatkan pemimpin dengan keahlian komplit ini.
Selamat bertugas dan terus membangun keberhasilan...!
![]() | Hari ini | 53 |
![]() | Minggu ini | 1184 |
![]() | Bulan ini | 6666 |
![]() | Total | 673867 |