Kecantikan Kota yang memiliki motto Reugreug, Pageuh, Repeh, Rapih atau Tangguh, Kukuh, Aman, Tentram dan Bersatu ini memang tak pernah berubah, namun tetap saja ada sesuatu yang membedakan antara Sukabumi yang dulu dan Sukabumi yang sekarang. Kota Sukabumi yang sekarang tampak kian menunjukan Inner Beauty nya. Hal ini tak lepas dari kerja keras yang dilakukan oleh pemerintah kota bersama seluruh elemen masyarakat Kota Sukabumi dalam mewujudkan Masyarakat kota Sukabumi Yang Sehat Cerdas dan Sejahtera dibingkai dengan Iman dan Taqwa.
Pendidikan Gratis, Angka Melek Huruf: 99,99%
Sejatinya pendidikan adalah kunci mewujudkan kesejahteraan. Tanpa pendidikan yang layak maka kesejahteraan tak lebih dari sebuah mimpi kosong disiang bolong. Sialnya, ’harga’ pendidikan di negeri ini kerap begitu tinggi, bahkan cenderung tak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat kita yang masih hidup di tepi jurang kemiskinan. Pendidikan kerap menjadi ’barang industri’ yang hanya bisa dinikmati bila kita punya kocek cukup tebal. Tinggi nya angka buta huruf atau kasus putus sekolah bukan sesuatu yang sulit dicari di negeri ini. Pendek kata, pendidikan adalah barang mahal. Kondisi ini kemudian diperparah dengan mutu pendidikan yang terkadang jauh dari apa yang diharapkan. Bila sudah begini maka bisa dibayangkan bahwa kesejahteraan hanya akan jadi sebatas mimpi indah yang tak kunjung tiba...atau bahkan sebuah mitos?
Namun kondisi sebaliknya akan dijumpai ketika datang ke Kota Sukabumi. Ya, disini pemerintah setempat memiliki perhatian yang luar biasa untuk masalah yang satu ini. Menyadari begitu krusialnya masalah pendidikan, utamanya prihal buta huruf, Pemkot Sukabumi merasa perlu untuk menempatkan sektor yang satu ini menjadi konsentrasi pembangunan mereka. Hasilnya, sejak tahun 2005 Pemkot Sukabumi berani menetapkan dan melaksanakan kebijakan program Wajib Belajar Pendidikan (Wajardik) 12 Tahun atau 3 tahun lebih tinggi dari target nasional yang hanya 9 tahun.
Tak puas dengan itu, Pemkott Sukabumi yang dimotori oleh sang Walikota Mokh. Muslikh Abdussyukur pun menyediakan dana sebesar Rp 15 miliar yang dalokasikan untuk beasiswa bagi para pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan ke SMA/ SMK. Dana bantuan ini ditujukan bagi mereka yang berasal dari keluarga yang tergolong keluarga tidak mampu. Dana ini bersumber dari APBD Kota Sukabumi, APBD Provinsi Jawa Barat, dan APBN. Mereka yang memperoleh beasiswa tersebut dibebaskan dari biaya pendidikan karena menerima dana sebesar Rp750 ribu/siswa tiap tahun. Dengan adanya program beasiswa ini pemerintah kota Sukabumi mencanangkan target tidak ada lagi anak putus sekolah dari jenjang SMP atau MTs di wiliyah Kota Sukabumi karena mereka (para penerima beasiswa) dapat meneruskan pendidikannya di semua SMA/ SMK, baik di SMA/ SMK negeri maupun swasta yang ada di Kota Sukabumi. Mereka pun diberi kebebasan untuk memilih sekolah yang mereka inginkan.
Program beasiswa ini pun tentunya dilengkapi dengan mekanisme seleksi yang ketat guna menjamin bahwa dana yang disalurkan tepat guna dan tepat sasaran. Para orang tua yang ingin memperoleh beasiswa bagi anaknya tersebut harus mengajukan aplikasi yang dilampiri surat keterangan tidak mampu dari kantor kelurahan dan kantor kecamatan. Aparat Disdik akan meneliti kebenaran dari keterangan tidak mampu itu langsung ke lapangan. Alokasi dana beasiswa pun ini tidak diberikan kepada pelajar namun langsung kepada sekolah. Hal ini untuk menghindari penyalahgunaan fasilitas yang diberikan. Para penerima hanya mendapatkan dana khusus untuk menunjang kegiatan belajar mereka.
Dengan kebijakan ini rasanya Kota Sukabumi layak dinobatkan sebagai daerah percontohan, utamanya dalam masalah kebijakan publik dibidang pendidikan. Tengoklah angka- angka fantastis yang telah dicapai kota yang terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat ini. Pada tahun 2009 yang lalu tercatat angka melek huruf (AMH) di kota Sukabumi telah mencapai angka 99,99 persen. Angka rata-rata lama sekolah (RLS) pun bertengger diangka 99,15 persen. Begitu juga dengan Angka Partisipasi Murni (APM), dengan gambaran di tingkat SD dari target 99,99 terealisasi 97,75, SMP dari target 99,94 terealisasi 97,50, dan SMU dari target 99,15 terealisasi 99,37, sementara untuk Angka Partisipasi Kasar APK), antara lain, SD dari target 116,56 terealisasi 116,32, SMP dari target 107,49 terealisasi 108,46, dan SMU dari target 103,39 terealisasi 125,63. Ini adalah sebuah capaian yang layak diberikan apresiasi dan dijadikan teladan bagi daerah- daerah lain di nusantara. Kini rata-rata pendidikan penduduk kota Sukabumi sudah mencapai 11 tahun lebih. Yang tak kalah penting adalah keberhasilan Pemkot Sukabumi dalam menggenjot angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas, yakni dari target Rencana Renstra dan Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Sukabumi sebesar 93,35 persen, tercapai 77 ribu 609 orang, yang telah melek huruf sebanyak 77 ribu 601 orang atau 99,99 persen.
Dan diantara begitu banyak inovasi dibidang pendidikan yang mendapat apresiasi luar biasa dari publik adalah Regrouping sekolah dasar, Kartu bebas biaya sekolah dan program penuntasan rehabilitasi gedung sekolah.
Kebijakan ’yang berpihak’ ini dirasakan sangat meringankan beban yang harus ditanggung oleh masyarakat, utamanya mereka yang tidak mampu. Karena dengan semakin tingginya kualitas pendidikan yang mereka dapatkan sama dengan semakin luasnya kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki nasib.
Membangun Masyarakat Sukabumi yang Sehat
Selain pendidikan, sektor kesehatan juga menjadi fokus pembangunan yang dicanangkan pemerintah kota setempat. Berbagai upaya guna mewujudkan masyarakat Sukabumi yang sehat terus menerus dilakukan. Mulai dari pembangunan dan perbaikan sarana kesehatan, meningkatkan kualitas tenaga kesehatan hingga kampanye-kampanye tentang hidup sehat kepada masyarakat sejak usia dini. Dimata sang walikota, kualitas kesehatan masyarakat memainkan peran yang sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan. Akan mubazir rasanya walaupun daerahnya maju namun masyarakatnya sakit-sakitan.
Berangkat dari pemikiran tersebut Pemkot setempat menggelar upaya-upaya yang untuk memperkuat sektor ini. Hal ini diwujudkan dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di puskesmas- puskesmas yang menjadi garda terdepan kesehatan masyarakat. Tak hanya itu, mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit pun turut digenjot ke level yang lebih tinggi dan mumpuni. Hasilnya RSUD Syamsudin, SH Kota Sukabumi pun berhasil mengantongi sertifikasi ISO 9001- 2008 IWA 1 dan menjadi salah satu rumah sakit yang menjadi percontohan PKRS se-indonesia oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Pemkot Sukabumi pun gencar melakukan kampanye- kampanye kesehatan kepada masyarakat sejak usia dini. Salah satu bentuknya adalah dengan menggalakan UKS atau usaha kesehatan sekolah. Keberadaan UKS menjadi begitu penting karena UKS merupakan media pembelajaran yang tepat, dalam upaya mengenal dan membiasakan sejak dini masyarakat, untuk terbiasa hidup sehat. Melalui program Trias UKS, yakni pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan penyuluhan lingkungan sehat, dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta dapat berpengaruh positif erhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Sukabumi. Kondisi masyarakat yang sehat juga menjadi cerminan keberhasilan pembangunan di Kota Sukabumi.
Keberhasilan pembangunan sektor kesehatan dapat terlihat dari angka kematian bayi (AKB) tahun 2009, dari target 45 per seribu kelahiran hidup justru mampu terealisasi lebih baik yaitu 34 per seribu kelahiran hidup.
Angka harapan hidup (AHH) masyarakat Kota Sukabumi pun tergolong tinggi, yaitu 71,87 tahun. Tak keliru kiranya jika Kota Sukabumi disanjung sebagai daerah yang sehat dan sangat layak untuk dihuni. Paling tidak semua indikator tentang kesehatan yang terpapar menunjukan hal itu.

Satu lagi yang membanggakan adalah penghargaan Pemkot setempat kepada kaum lansia yang patut dijadikan contoh daerah-daerah lain. Pemkot Sukabumi menggulirkan kebijakan yang membebaskan para lansia dari berbagai macam pungutan, seperti biaya kesehatan dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Pemkot Sukabumi juga menyediakan fasilitas Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) dan fasilitas trotoar khusus bagi para lansia. Bahkan untuk ke depannya, Pemerintah Kota Sukabumi telah merencanakan akan membangun rumah khusus lansia, untuk menampung para lansia yang tidak mampu. Luar biasa bukan.
Diluar keberhasilan pembangunan di kedua sektor tersebut Kota Sukabumi juga memiliki catatan yang menggembirakan dibidang lain. Seperti, dibidang pelestarian lingkungan hidup, pemberdayaan kaum wanita/kesetaraan gender, hingga penyelenggaran pemerintahan yang akuntabel. Yang cukup fenomenal tentunya adalah program inovasi Integrasi Pengelolaan Sampah Dengan Penggemukan Sapi Dan Padi Organik, sebuah terobosan pengelolaan sampah dengan multiplier effect yang bermanfaat bagi petani dan peternak. Program ini secara nyata mampu mendongkrak pendapatan masyarakat, yang ujung-ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan utamanya rakyat kecil.
Dan bila bicara masalah penghargaan rasanya Kota Sukabumi termasuk yang terdepan sebagai pengumpul penghargaan. Beberapa diantara banyak penghargaan itu adalah penghargaan Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP) dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan dan RB) RI, EE Mangindaan, dua kali beturut-turut , Penghargaan Adipura tahun 2010, penghargaan Leadership Milleneum Development Goals (MDGs) dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, atau Innovative Goverment Award (IGA) 2010 dari Kementerian Dalam Negeri dan masih banyak lagi. Dan hebatnya, semakin penuh sesaknya rak milik Pemkot Sukabumi oleh berbagai macam penghargaan dan keberhasilan ternyata merujuk pada sebuah nama, siapa lagi kalau bukan H. Mokh. Muslikh Abdussyukur , S.H., M.Si., sang walikota.
![]() | Hari ini | 51 |
![]() | Minggu ini | 1182 |
![]() | Bulan ini | 6664 |
![]() | Total | 673865 |