Pemimpin Tak Boleh Instan

User Rating: / 0
PoorBest 

Harus diakui, masih banyak pemimpin tidak tahu bagaimana mengurus rakyatnya, bagaimana mengelola birokrasi. Ada kebingungan-kebingungan dalam bekerja yang hampir merata diseluruh Indonesia. Bahkan banyak juga yang tidak mengerti apa itu pemerintahan dan bagaimana itu pemerintah.

Kebingungan itu terutama terjadi pada pemimpin yang lahir secara instan. Padahal seorang pemimpin pemerintahan harus lahir melalui proses yang panjang. Kalau lahir secara instan maka dapat dipastikan dia akan bingung dengan apa yang harus diperbuat. Padahal pimpinan pemerintahan ibarat pilot sebuah pesawat, nahkoda atau sopir yang selain dituntut memiliki kemampuan, ketermapilan, dan pengalaman, dia juga harus memiliki ilmu pengetahuan.

Kalau pemimpin tidak dibentuk dan dipersiapkan secara baik maka kebingungan terus berlanjut. Hal itulah yang banyak terjadi saat ini. Banyak daerah seperti tidak memiliki pemerintahan dan bersamaan dengan itu rakyat merasa tidak punya pemimpin.

Itu sebabnya, perlu ada model pengkaderan yang benar terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Di birokrasi saat ini paling tidak di Depdagri sudah ada IPDN. Namun, perlu diingat bahwa berhubung sistem pemerintahan, sistem politik kita sekarang sudah terbuka, sangat demokratis maka setiap orang bias menduduki jabatan-jabatan publik. Tapi kalau institusi utama sebagai tempat pengkaderan pejabat publik tidak menyiapkan diri, maka rencana dan program pemerintah yang telah dirancang dengan baik oleh birokrat tentu tidak akan mencapai hasil yang maksimal, karena tidak didukung oleh kepemerintahan di daerah yang kompeten. Di sinilah peran partai politik yang memiliki fungsi rekrutmen untuk mempersiapkan kader-kadernya guna menduduki jabatan-jabatan publik baik sebagai anggota DPRD maupun sebagai kepala daerah.

Akan tetapi, dapatkah seorang pemimpin menjalankan roda pemerintahan jika lahir secara instan? Tentu meragukan! Pasalnya, pemimpin yang baik dan bijak serta mengetahui tugas dan fungsinya, mestilah melalui proses. Pada era Orde Baru, seorang calon bupati misalnya, bukan muncul begitu saja, tetapi melewati proses penjaringan yang ketat dari mereka yang memang sudah melalui jenjang karier yang jelas serta pelatihan kepemimpinan yang cukup panjang. Jadi, pemimpin tidak instan dan sekonyong-konyong tampil.

Itu sebabnya jabatan- jabatan publik, seperti anggota legeslatif, atau kepala daerah itu umumnya dimonopoli oleh birokrat, apakah sipil atau militer yang sangat menekankan pada aspek pendidikan.

Karena pendidikan dan pelatihan berkaitan erat dengan jenjang karier, maka tidak mungkin ada orang yang begitu lulus sekolah, sepintar apapun dia akan langsung jadi kepala dinas. Begitu pula, tidak mungkin ada seorang tamatan akademi militer, walaupun dia lulus dengan nilai rata-rata 10 langsung jadi komandan batalyon. Mereka itu harus mengikuti berbagai jenjang pendidikan untuk tiba pada jabatan eselon dua atau kepala dinas atau jadi komandan batalyon.

Namun di kekinian, untuk jabatan-jabatan public siapa saja bias masuk tanpa melalui suatu proses pendidikan yang diarahkan untuk jabatan itu. Sehingga tak mengherankan jika ada seorang anggota Polri berpangkat Bripka, karena memiliki uang, atau seorang PNS golongan III/a, atau mereka yang berasal dari swasta dapat saja muncul menjadi kepala daerah. Apakah itu salah? Dalam sistem demokrasi dimana jabatan publik bersifat terbuka, tentu tidak. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah apakah mereka telah dipersiapkan atau punya pengalaman yang memadai untuk memangku jabatan yang begitu strategis? Disinilah peran parpol melakukan pendidikan politik, melakukan kaderisasi menyiapkan kader-kadernya untuk menjadi pejabat public. Partai politik sudah harus meneropong kader-kadernya itu, siapa yang potensial atau berbakat untuk menjadi anggota legeslatif dan siapa saja yang berbakat menjadi pimpinann eksekutif, itulah yang dikader, diberi pemahaman, diberi ilmu tentang jabatan-jabatan yang akan diemban ke depan. Hanya saja, hal itu tidak dilakukan!

Berkaitan dengan itu maka kedepan seyogiyanya tidak boleh lagi ada pimpinan, bupati misalnya, yang dicalonkan oleh partaipolitik yang tidak dipersiapkan dari awal. Parpol harus menyampaikan secara terbuka seluruh track record orang yang dicalonkan. Apa saja prestasi yang telah dicapai, dimana saja dia pernah berkiprah, apa kelemahan- kelemahannya, dari mana saja sumber harta yang dimilkinya, dan sebagainya. Jadi setiap orang yang diajukan oleh parpol untuk jabatan-jabatan public harus bersedia ‘di telanjangi’. Seseorang yang dijagokan tidak lagi sekedar didasarkan atas popularitas atau kemampuan financial belaka. Dengan kata lain, dibutuhkan kebesaran jiwa dari para elite politik untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang mampu dan memiliki pengalaman, pendidikan memadai, dan rekam jejak yang baik dalam hal pemerintahan atau kemampuan kepemimpinan lainnya. Sekedar sebagai perbandingan, dapat kita simak pada sistem rekrutmen calon pemimpin di Amerika Serikat. Misalnya saja Barack Obama yang bukan pemimpin partai.

Namun, karena dia memiliki rekam jejak yang baik sejak dibangku perguruan tinggi, ketika dia jadi pengacara, serta saat jadi senator, maka Partai Demokrat merekrutnya menjadi calon presiden. Dan, ternyata rakyat Amerika percaya bahwa jika Obama yang memimpin mereka, ada harapan kehidupannya akan lebih baik. Karena memang disitulah sesungguhnya makna dari sebuah pemilihan, yakni pilihannya didasarkan atas harapan.

Dinegara-negara yang sudah maju, seperti Amerika Serikat, track record seseorang itu sudah terekam dengan baik. Beda dengan di Indonesia. Kita disini belum ada track record yang bagus, inilah kelemahan kita. Karena rekam jejak seseorang itu tidak diketahui, maka jangan heran jika kita tiba- tiba diperhadapkan pada calon pemimpin yang sekonyong- konyong muncul.

Di Amerika hal itu tidak mungkin. Tidak tiba-tiba! Contohnya Obama. Melalui proses konvensi internal partai yang panjang, rakyat Amerika mengetahui siapa Obama. Mereka tahu bahwa dia melalui karier sebagai pengacara dengan reputasi yang bagus. Dari pengacara kemudian dia menjadi senator yang rekam jejaknya juga bagus. Bahkan dimana dia pernah sekolah, bagaimana prilaku dan apa saja aktivitasnya selama sekolah, semua diungkap ke public dan bias diakses oleh seluruh orang Amerika. Bahwa Obama pernah terlibat narkoba, itu dia akui. Dan, ternyata di mata orang Amerika, itu bukan masalah. Yang penting Obama mengakui itu dan tidak menutupinya. Bagi orang Amerika, Obama adalah orang yang jujur sehingga dia patut jadi pemimpin.

Makanya, kalau kita mau pemimpin tidak instan maka ke depan sistem track record itu harus diterapkan dengan benar. Jadi, kalau ada seorang pengusaha yang maju menjadi calon kepala daerah, misalnya, harus diumumkan kepada masyarakat, si ini latarbelakangnya adalah pengusaha, usahanya dibidang ini. Ketika dia jadi pengusaha dia adalah pengusaha yang jujur, dia tidak pernah memanipulasi pajak, dia bukan pengemplang utang di bank, dia memberikan jaminan sosial tenaga kerja kepada karyawannya sehingga kalau karyawannya sakit tidak ada masalah. Begitu pula bila kandidatnya dari birokrat. Rekam jejaknya harus diungkap ke public dimana saja dia pernah berkarier, bagaimana perilakunya selama berkarier, apakah suka pungli, apa saja prsetasi yang pernah dia raih, dan lain-lain.

Intinya, semua mesti jelas! Kandidat pemimpin yang ingin dipilih oleh rakyat, harus jelas rekam jejaknya. . Segala kebaikan dan sukses, khususnya kejujurannya, dapat diketahui. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Harus jujur! Semua harus direkam dan disampaikan kepada masyarakat, sehingga pemilih tidak seperti membeli kucing dalam karung. Artinya lagi, apa yang telah diperbuat yang bersangkutan selama hidupnya harus disampaikan ke public, kalau dia misalnya pernah terlibat narkoba sampaikan kepada publik, nanti publik yang menilai.

Selain faktor kejujuran, yang juga dibutuhkan dari seorang pemimpin adalah tanggung jawab. Mengenai tanggung jawab ini, ada cerita bahwa Edward Kennedy tidak pernah lolos dari calon presiden Amerika Serikat hanya karena orang Amerika menilai dia tidak punya tanggung jawab.sebabnya adalah pada saat mobil yang ditumpangi bersama sekretarisnya jatuh ke dalam sebuah danau, dia tidak berusaha menolong si sekretaris yang tidak pandai berenang sehingga mati tenggelam. Edward Kennedy menyelamatkan diri sendiri. Bagi orang Amerika, tindakan Edward adalah wujud dari tidak adanya rasa tanggung jawab. Dan, orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab tidak layak jadi pemimpin.

Setelah kejujuran dan tanggung jawab, maka hal lain yang diperlukan dari seorang pemimpin adalah kecerdasan. Jadi tuntutan kecerdasan hanya pada urutan ketiga dari seorang pemimpin.

mod_vvisit_counterHari ini91
mod_vvisit_counterMinggu ini515
mod_vvisit_counterBulan ini7792
mod_vvisit_counterTotal702769

We have: 3 guests, 2 bots online
Your IP: 38.107.179.238
 , 
Today: May 21, 2012

Pendapat anda mengenai Leadership Park





Popular News

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
LEARNING ORGANIZATION

LEARNING ORGANIZATION  

LEARNING ORGANIZATION Anto Rohmawan Diretur Pengembangan LEMBAGA KONSULTASI PEMUDA & WIRAUSAHA The best thing in the Learning Process is “ Learning Together “ Perkembangan dunia bisnis dalam era saat ini dihadapkan pada proses perubahan yang sangat cepat dan kompleks. Lingkungan global yang semakin kompetitif dan beraneka ragam menuntut kebijakan strategis…

PERILAKU-PERILAKU NYEBELIN yang  MENGACAUKAN KINERJA TEAM

PERILAKU-PERILAKU NYEBELIN yang MENGACAUKAN KINERJA TEAM 

PERILAKU-PERILAKU NYEBELIN yang  MENGACAUKAN KINERJA TEAM Sebuah team kerja menghadapi hari terakhir sebelum deadline. Mereka sedang duduk di ruangan rapat untuk progress review meeting. Satu persatu staff menyajikan hasil tugasnya. Akhirnya, sampai pada giliran salah satu staff……… tetapi tidak ada presentasi apapun…karena staff itu tidak datang. Maka, pimpinan memutuskan, bahwa…

Cara Menghadapi Karyawan yang Tidak Komunikatif ?

Cara Menghadapi Karyawan yang Tidak Komunikatif ? 

Cara Menghadapi Karyawan yang Tidak Komunikatif ? Anda pernah menemukan karyawan pendiam? Karyawan yang tidak banyak bicara. Ia seolah berada dalam dunia lain, dunianya sendiri. Fisiknya ada di kantor, tetapi isi kepalanya tampak berada diluar. Bila dalam suasana meeting, ia lebih banyak duduk tidak memperhatikan apa yang terjadi. Ia tampak…

mengelola si negatip !

mengelola si negatip ! 

Mengelola Si Negatif ! Kunci penting yang dimiliki para Manager atau Supervisor adalah authority. Anda, para Leader memiliki authority itu, tetapi bagaimana menggunakannya untuk mencapai tujuan, itu adalah Leadership. Anda tidak bisa serta merta meminta orang mengubah sikap mereka sendiri. Tetapi Anda bisa memaksa orang berubah dengan niatnya sendiri. Bagaimana…

Dr. H. Dani Firnanda, MM Siap Menjadi Pelayan Warga Samarinda

Dr. H. Dani Firnanda, MM Siap Menjadi Pelayan Warga Samarinda 

Dr. H. Dani Firnanda, MM Siap Menjadi Pelayan Warga Samarinda Berbicara seorang Dani Firnanda berarti kita tengah membicarakan pengabdian seorang anak bangsa kepada daerah asalnya. Sepak terjang yang dilakoni Dani, tertata dengan baik. Ia memberikan keahliannya untuk membantu meringankan beban warga Samarinda yang hidup dalam keterbatasan. Coba simak antrian masyarakat…

“SEC SEC” Secretary in a SECRET

“SEC SEC” Secretary in a SECRET 

“SEC SEC” Secretary in a SECRET Kita ketemu kembali dalam ulasan topic “Sec Sec” (membacanya sambil menutup bibir dengan satu jari telunjuk seperti ada sebuah pembahasan yang tidak boleh dibicarakan lebih lanjut kepada orang lainnya). Ini seperti sebuah dilemma karena menambah beban rahasia di hati yang ingin sekali bergossip menceritakan…

ARSITEKTUR RUANG BERCINTA

ARSITEKTUR RUANG BERCINTA 

ARSITEKTUR RUANG BERCINTA “Ruang yang romantis, warna ruang dengan nuansa lembut, lampu remang-remang, di sertai wewangian dengan aromatherapy dan  musik yang mengalun lembut, di tambah kaca di seluruh ruangan……”, sejenak dia terdiam, matanya menerawang membayangkan ruang bercinta imajinasinya , ”Tempat tidur yang cukup luas dan  tidak menimbulkan suara gaduh, sebuah…

Memimpin di tengah kesulitan

Memimpin di tengah kesulitan  

Memimpin di tengah kesulitan Sebuah kepemimpinan tidaklah selalu berjalan mulus, kadangkala waktu sulit mampir untuk menguji kesabaran dan ketekunan Anda. Apabila Anda merasa diri Anda sebagai pemimpin yang berkualitas tinggi, dan ketika waktu sulit hadir untuk menguji kualitas total dari kepemimpinan Anda, maka disitulah Anda harus berdiri tegar dan super…

Kredibilitas Pemimpin

Kredibilitas Pemimpin 

Kredibilitas Pemimpin Ketika suatu organisasi akan mengadakan perubahan maka faktor kredibilitas dan kepemimpinan menjadi hal utama. Kredibilitas merupakan hal paling potensial kalau perusahaan mau unggul dalam persaingan pasar. Kedudukannya sebagai sumber enerji positif dari dalam seorang pemimpin. Di dalamnya ada beragam nilai seperti kepercayaan tinggi, kepemimpinan mumpuni, karakter pribadi, kompetensi,…

Hutan Bakau, benteng yang terancam runtu

Hutan Bakau, benteng yang terancam runtu 

Hutan Bakau, benteng yang terancam runtuh.. Istilah  “Hutan Bakau” mungkin tak asing lagi ditelinga para leaders. bahkan sesekali kita mungkin berkesempatan untuk melihatnya, walau hanya dari kejauhan. Tapi pernahkah kita menyadari betapa besarnya fungsi dan kegunaan hutan bakau bagi kelestarian lingkungan kita? Seringkali kita lupa akan hal itu. Peran dan…

Pre 1 2 3 4 5 Next